Lima Menit Warga Mentawai Rasakan Guncangan Gempa

Lima Menit Warga Mentawai Rasakan Guncangan Gempa

Gambaran kepanikan warga Padang berhamburan ke jalan saat wilayah Sumatera Barat dan sekitarnya diguncang gempa 7,8 SR, Rabu (2/3/2016) malam. (foto - ist)

Jakarta - Warga Kepulauan Mentawai khususnya yang ada di Pulau Siberut merasakan guncangan selama lima menit, saat dilanda gempa berkekuatan 7,8 pada skala Richter yang mengguncang kawasan Sumatera bagian barat, Rabu (2/3/2016) malam.

"Gempa itu terjadi hingga warga mengungsi ke dataran lebih tinggi. Namun, tak lama mereka kembali ke rumah masing-masing," kata Zulharman, warga Siberut seperti dilansir BBC"Warga di Siberut sempat mendapat peringatan tsunami, tapi banyak juga warga yang tinggal di pesisir belum meninggalkan rumah. Peringatan tsunami tidak diterima dengan jelas sepertinya," katanya.

Sementara Marjina, warga di Sikakap kepada kantor berita Associated Press mengatakan, gempa terasa tak begitu kuat, namun peringatan tsunami sempat membuat warga desa panik dan mereka menuju ke tempat yang lebih tinggi.

Di Padang, Sumatera Barat gempa juga membuat warga berhamburan keluar rumah untuk mencari perlindungan. Gempa semacam ini memang berpotensi menyebabkan kerusakan. Namun Badan Survei Geologi Amerika Serikat, USGS, menyatakan pusat gempa jauh dari daratan.

Biro Meteorologi Australia mengeluarkan peringatan untuk Kepulauan Cocos dan Christmas, namun tak meminta warga mengungsi. Badan ini juga mengeluarkan peringatan tsunami, tapi kemudian dicabut. Berdasarkan informasi, Kepulauan Mentawai khususnya Pulau Siberut Selatan, sejauh ini aman dari tsunami.

Menurut anggota Babinsa Pulau Siberut, Serma Panglea, goncangan saat terjadi gempa tidak terlalu besar. Untuk sementara, tidak ada tanda-tanda akan terjadi tsunami di Pulau Siberut. Saat terjadi gempa, beberapa warga sempat berlarian ke gunung. Namun tidak berapa lama, mereka kembali ke rumah masing-masing.

Wilayah rawan tsunami

Sementara itu, berdasarkan pernyataan dari peneliti Geologi Kelautan dan Tsunami, dari Balai Pengkajian Dinamika Pantai, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Reno Arief Rachman belum lama ini melakukan penelitian, Kepulauan Mentawai saat ini berada pada periode gerakan patahan. Untuk itu, di masa mendatang ada kemungkinan akan terus terjadi gempa dan tsunami.

Menurut Reno Arief Rachman, pulau-pulau di Mentawai adalah dasar laut yang muncul ke permukaan karena adanya tumbukan lempeng-lempeng bumi. Lempeng bumi itu masih terus bertumbukan, yang kemudian menimbulkan gempa berpotensi tsunami.

"Mentawai itu bukan kepulauan, itu adalah dasar laut yang diangkat ke atas. Jadi, warga yang tinggal di sana adalah warga yang tinggal di patahan yang bisa menyebabkan tsunami. Kalau ada patahan aktif, di situ akan terus terjadi gempa. Jadi, sebenarnya Mentawai itu sekarang ini dalam proses pengangkatan ke atas," katanya.

Oleh karena itu, setelah gempa dan tsunami 25 Oktober 2010 lalu, daratan Mentawai mengalami kenaikan rata-rata satu meter. Pantai berpasir hilang dan berubah menjadi pantai berkarang. Pertanyaannya, haruskan warga Kepulauan Mentawai pindah ke kawasan lain?

Pakar penanganan bencana yang juga Kepala Pusat Studi Bencana UGM, Dr. Junun Sartohari menilai, secara ilmiah Kepulauan Mentawai memang seharusnya tidak ditinggali. Namun, secara sosial, relokasi warga Mentawai ke kawasan lain bukan persoalan yang mudah.

"Jika pertanyaannya apakah harus relokasi, sebenarnya kalau secara scientific memang harus. Namun secara sosial perlu kita sadarkan bersama, kalau secara sosial tidak harus artinya boleh ditempati, harus juga menyertakan upaya untuk mengurangi bahaya itu. Misalnya membangun sea wall atau tembok sepanjang pantai. Yang kedua masyarakatnya harus tahu, bahwa dirinya berada di daerah rawan tsunami,” kata Junun Sartohadi.

Dalam kasus Mentawai, baik Dr. Junun Sartohadi maupun Reno Arief Rachman sama-sama menilai, relokasi memang tidak harus dilakukan. Namun, pemerintah harus menerapkan teknologi deteksi tsunami yang lebih canggih, sehingga warga dapat diperingatkan sejak dini ketika bencana terjadi. Warga pun harus dipersiapkan untuk menghadapi bencana, seperti mengadakan pelatihan bencana, menetapkan jalur evakuasi dan memilih zona aman. (Jr.)**

.

Categories:Nasional,
Tags:,