ISIS Bantai 250 Gadis karena Menolak Jadi Budak Seks

ISIS Bantai 250 Gadis karena Menolak Jadi Budak Seks

Samra Kesinovic, remaja berusia 17 tahun yang bergabung dengan ISIS malah dijadikan budak seks yang akhirnya tewas. (foto - ilustrasi)

Mosul - Keinginan Samra Kesinovic untuk bergabung dengan kelompok Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS), berujung petaka. Remaja berusia 17 tahun asal Australia tersebut malah dijadikan sebagai budak seks. Tak hanya itu, Kesinovic juga akhirnya harus meregang nyawa akibat dianiaya, setelah ketahuan aakan melarikan diri.

Kesinovic pergi meninggalkan rumah dan negaranya untuk berjuang dengan ISIS bersama dengan rekannya bernama Sabina Selimovic. Mereka lantas dijadikan "gadis poster" oleh anggota ISIS. Sebelum usaha terakhirnya, Kesinovis pernah mencoba kabur selama beberapa kali, tapi selalu gagal. Hingga akhirnya pada percobaan terakhir diketahui anggota ISIS.

Kini, sedikitnya 250 orang perempuan di daerah Mosul, Irak dilaporkan telah dibantai oleh kelompok militan ISIS, karena menolak untuk dijadikan budak seks. ISIS dikabarkan memaksa para perempuan muda untuk menikah dengan anggotanya.

Mereka yang menolak berakhir dengan eksekusi mati. Bahkan eksekusi terkadang dilakukan di hadapan keluarga korban. "Setidaknya 250 gadis sudah dieksekusi karena menolak untuk melakukan praktik seksual jihad. Terkadang keluarga korban juga ikut dieksekusi karena tidak bisa memenuhi permintaan ISIS," kata Juru Bicara Partai Demokrat Kurdi, Said Mamuzini.

Seperti dikutip dari laman Metro.co.uk, Jumat (22/4/2016) Ghayas Surchi, seorang pejabat dari Uni Patriotik Kurdistan (PUK) menyatakan hal itu sungguh menyeramkan. Ia menceritakan bagaimana perempuan disiksa dan dilanggar haknya di semua wilayah yang dikuasai ISIS.

Hal itu merupakan contoh terbaru pelecehan dan pembunuhan terhadap perempuan di Mosul sejak kota itu dikuasai oleh ISIS, Juni 2014. Bulan Agustus di tahun yang sama, 500 perempuan Yazidi diculik, disiksa dan dilecehkan secara seksual oleh ISIS.

Sementara pada Agustus 2015, 19 perempuan dibunuh secara brutal karena menolak berhubungan badan dengan pejuang ISIS. Lalu pada bulan November, ditemukan kuburan massal berisi mayat warga Yazidi dalam keadaan hancur di kota Sinjar, Irak. Pentagon memaparkan, untuk pertama kalinya kekuatan militer udara Amerika Serikat mengerahkan bomber B-52, dalam upaya penyerangan melawan kelompok militan ISIS.

Dilaporkan situs Al Arabiya, peluncuran alat yang bisa menghancurkan fasilitas penyimpanan senjata di Mosul itu, terjadi pada minggu yang sama ketika Menteri Pertahanan Ash Carter mengunjungi Baghdad. Ia juga mengumumkan akan mengerahkan pasukan tambahan AS, uang tunai, dan peralatan bagi kampanye anti-ISIS di Irak.

Pasukan komando AS pun bekerja sama dengan tentara Kurdi untuk merazia target tokoh senior ISIS. Sementara, Pentagon mengaku telah mengubah strategi serangan udara mereka untuk menghindari korban warga sipil. Di bawah kebijakan baru, otoritas kini berasal dari Panglima AS (bintang tiga) di Baghdad, bukan lagi melalui Komando Pusat AS (bintang empat) di Florida. 

Juru Bicara Militer AS yang berbasis di Baghdad, Kolonel Steve Warren menegaskan, perubahan itu tidak mengurangi standar pengawasan dalam memperhatikan keselamatan warga sipil. Pentagon mengakui adanya 26 warga sipil yang tewas dalam serangan koalisi yang dipimpin AS, sejak kampanye perlawanan terhadap ISIS dimulai pada bulan Agustus tahun 2014 di Irak. (Jr.)**

.

Categories:Internasional,
Tags:,