Jurnalis Bandung Peringati Hari Kebebasan Pers di Taman Vanda

Jurnalis Bandung Peringati Hari Kebebasan Pers di Taman Vanda

Salah satu aksi teatrikal jurnalis Bandung dalam memperingati Hari Kebebasan Pers Internasional (World Press Freedom) di Taman Vanda Bandung. (foto - pikiran-rakyat.com)

Bandung - Memperingati Hari Kebebasan Pers Internasional (World Press Freedom) yang jatuh setiap 3 Mei, sejumlah jurnalis yang tergabung dalam Solidaritas Jurnalis Bandung menggelar aksi di Taman Vanda Jalan Merdeka Bandung. 

Mereka antara lain berasal dari Pewarta Foto Indonesia (PFI), Wartawan Foto Bandung (WFB) dan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Bandung. Peserta aksi terdiri atas wartawan media cetak, online, televisi, dan wartawan foto, mengusung berbagai poster dan spanduk berisi pesan tuntutan untuk menegakkan kebebasan pers dan berekspresi.

Dalam aksinya, perwakilan dari PFI, WFB dan AJI Bandung menyampaikan orasi terutama ditujukan kepada kepolisian, khususnya Sat Brimob Polda Jabar. Di mana saat kerusuhan Lapas Banceuy, mengintimidasi dan mengancam seorang jurnalis foto peliput kerusuhan, Bambang Prasetyo alias Ibeng.
 
Ketua WFB Djuli Pamungkas menyebutkan, wartawan bertugas menyampaikan fakta dan informasi yang benar. Wartawan bukan tukang fitnah tetapi mengabarkan hasil liputannya di lapangan. "Keluaga kami, Ibeng mendapat perlakuan tak menyenangkan. Rekan Bapak (polisi) mengintimidasi dan mengancamnya. Hari-hari tak lagi cerah jika tidak ada kebebasan,” katanya.
 
Ia menyerukan, ada tiga beban yang dihadapi wartawan saat meliput di lapangan. Yakni tugas menyampaikan kebenaran kepada publik, keselamatan keluarga dan anak, hingga nyawa diri sendiri.
 
Sementara itu Sekertaris AJI Bandung Tri Joko Heriadi menyatakan, sejumlah kasus pelanggaran terhadap kebebasan berekspresi di Kota Bandung belakangan ini. Antara lain upaya pembatalan pementasan teater Tan Malaka di IFI Bandung. Lakon itu akhirnya bisa dipentaskan setelah Walikota Ridwan Kamil menjamin pementasan, sehingga aparat kepolisian pun berjaga-jaga.
 
Namun langkah Pemkot Bandung maupun kepolisian terlambat. Seharusnya tugas pemerintah daerah dan kepolisian mencegah sebelum terjadinya pelanggaran terhadap kebebasan berekspresi. "Peran pemerintah dan polisi sebagai aparat hukum, harus menjamin kebebasan berekspresi setiap warga negara termasuk jurnalis,” katanya.
 
Aksi damai tersebut ditutup dengan pembacaan tujuh poin pernyataan sikap, yakni mengutuk segala tindakan kekerasan terhadap jurnalis, lembaga, atau pribadi yang menyampaikan ekspresinya.

Kedua, menuntut penghentian kekerasan terhadap jurnalis oleh semua pihak; ketiga Kepolisian Daerah Jawa Barat diminta segera mengklarifikasi dan mencabut ancaman serta intimidasi terhadap jurnalis oleh anggota Brigade Mobil yang bertugas saat kerusuhan Lapas Banceuy.
 
Keempat, menghentikan impunitas dan mengusut tuntas kasus kekerasan yang terjadi pada jurnalis. Kelima, melindungi dan melayani segenap warga negara yang hendak memperoleh informasi dan menyampaikan ekspresinya lewat berbagai media selama tidak bertentangan dengan dasar negara.

Publik untuk selalu memberikan kritik terhadap media massa dengan mengacu pada UU Pers, dan ketujuh agar seluruh jurnalis selalu menjunjung dan menerapkan kode etik dalam menjalankan tugasnya. Akhirnya mereka menggalang tanda tangan di atas spanduk yang menolak kekerasan terhadap jurnalis. (Jr.)**
.

Categories:Bandung,
Tags:,