Tragis, Nasib si 'Yani' Sesaat Setelah Dijenguk Kang Emil

Tragis, Nasib si 'Yani' Sesaat Setelah Dijenguk Kang Emil

Walikota Bandung Ridwan Kamil prihatin terhadap kondisi Kebun Binatang Bandung ketika menjenguk seekor gajah bernama

Bandung - Selepas dijenguk Walikota Bandung Ridwan Kamil, seekor gajah di Kebun Binatang Bandung bernama "Yani" akhirnya meninggal, Rabu (11/5/2016) petang sekitar pukul 18.35 WIB. Proses nekropsi (otopsi untuk hewan atau binatang) bangkai gajah "Yani" akan dilakukan Kamis pagi.

"Proses otopsi akan dibantu peralatan dari dokter hewan Sumedang dan Dinas Peternakan Provinsi Jabar, serta Kota Bandung dan dokter PKBI. Kita janjian ketemu di sini," kata Kepala BBKSDA Jawa Barat Sylvana Ratina di Kebun Binatang Bandung, Rabu (11/5/2016) malam.

Menurutnya, selama proses otopsi terhadap Yani dilakukan, maka Kebun Binatang Bandung akan ditutup untuk umum atau dari pengunjung. "Kita tutup karena takut mengganggu dan nanti jadi tontonan, sehingga malah jadi enggak karu-karuan," katanya.

Otopsi terhadap Yani, kata Sylvana akan berlangsung sekitar tiga jam yang melibatkan tim dokter gabungan dari dokter Rumah Sakit Hewan Cikole Provinsi Jawa Barat, dokter dari Taman Safari dan lain-lain.

Sebelumnya seekor gajah Sumatera bernama Yani, yang menjadi salah satu satwa penghuni Kebun Binatang Bandung dinyatakan mati, setelah kondisinya sempat kritis. Yani dinyatakan lumpuh terbaring di jerami di bawah lindungan terpal berwarna biru

Sementara itu, Walikota Bandung Ridwan Kamil langsung merespon laporan warga atas kondisi Kebun Binatang Bandung yang memprihatinkan. Makanya pada Rabu (11/5/2016) siang, pria yang akrab disapa Emil tersebut mengunjungi lokasi.

Emil memantau beberapa lokasi yang dinilai perlu dilakukan perbaikan. Ia juga menjenguk seekor gajah Sumatera bernama Yani, yang dalam kondisi sakit dan kurang terawat. "Sejak tahun 2013 sudah saya panggil pengelola kebun binatang, kami sudah menawarkan agar pengelolaan kebun binatang ini lebih profesional," katanya.

Ia menyarankan, ke depan pengelola kebun binatang tersebut lebih membuka diri dan peluang terhadap adanya bantuan dari pihak luar. Tujuannya agar manajemen dan pengelolaan kebun binatang bisa lebih ditingkatkan. "Kalau tidak ada kapasitas untuk mengembangkan sesuai standar minimal, membuka diri terhadap bantuan dan investasi dari luar," kata Emil.

Status pengelolaan Kebun Binatang Bandung itu sendiri saat ini, berupa yayasan yang dimiliki pribadi. Yayasan itu menyewa lahan milik Pemkot Bandung. Sementara Pemkot Bandung tidak memiliki landasan hukum untuk mengambilalih pengelolaan kebun binatang itu. Meski begitu, Pemkot sangat terbuka dan siap membantu jika pihak pengelola membutuhkan bantuan.

Emil pun mendorong agar pihak pengelola memperhatikan saran dari warga, agar kualitas pelayanan kebun binatang lebih baik lagi. "Kita berusaha menghadirkan tempat wisata yang baik, tidak hanya untuk pengunjung tapi juga untuk binatangnya," tambahnya.

Sementara itu, Sudaryo, pengelola kebun binatang mengaku sudah hampir setahun tempatnya tidak memiliki dokter hewan karena mengundurkan diri. Menurutnya, cukup sulit untuk mendapatkan dokter hewan yang kompeten di bidang satwa liar. "Tidak bisa sekadar dokter hewan semata," katanya. (Jr.)**

.

Categories:Bandung,
Tags:,