BKSDA Serukan Kematian 'Yani' Jadi Masalah Internasional

BKSDA Serukan Kematian 'Yani' Jadi Masalah Internasional

Kepala BKSDA Provinsi Jawa Barat Sylvana Ratina menanggapi meninggalnya "Yani" di kebun Binatang Bandung. (foto - ist)

Bandung - Sedikitnya delapan dokter hewan melaksanakan proses nekropsi atau bedah bangkai (otopsi untuk hewan), yang dipimpin oleh dokter (drh.) Yohana dari Taman Safari. Proses nekropsi tersebut memakan waktu sedikitnya tiga jam, Kamis (12/5/2016) sekitar pukul 07.00 WIB.
 
Buntut dari kematian gajah Yani, pihak Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jawa Barat pun, memeriksa kondisi seluruh satwa yang ada di Kebun Binatang Bandung. Selama proses bedah bangkai itu dilaksanakan, Kebun Binatang Bandung pun untuk sementara waktu ditutup untuk umum.
 
Sebelumnya, sebagai bentuk kekecewaan terhadap buruknya pengelolaan Kebun Binatang Bandung, Walikota Bandung Ridwan Kamil pun sempat menyerukan untuk memboikot Kebun Binatang Bandung. Dalam akun Instagram-nya, Ridwan Kamil memajang tagar #BoikotBonbinBdg.
 
"Barusan kabar masuk gajah yang tadi pagi ditengok yang benrama Yani ini mati jam 18-an. Karena ini bonbin milik pribadi, saya akan pelajari cari upaya hukum. Sementara itu ayo lawan dengan #BoikotBonbinBdg," tulis Emil di akun @ridwankamil, Rabu malam.
 
Hal iitu wajar, mengingat banyak pihak khususnya warga Bandung yang merasa prihatin, atas keberadaan dan pengelolaan kebun Binatang Bandung selama ini. Bahkan berdasarkan penilaian BKSDA Jabar, kematian gajah Sumatera bernama Yani di Kebun Binatang Bandung bukan persoalan sepele, tetapi sebagai masalah serius. Yani diketahui telantar hingga akhirnya meninggal.
 
Menurut Kepala BKSDA Jawa Barat, Sylvana Ratina, kematian gajah tersebut bukan merupakan persoalan yang sepele. Namun, kematian sang gajah tersebut bahkan jadi urusan dan persoalan internasional. "Kasus ini jadi urusan dunia," tegas Sylvana.
 
Selama ini, gajah merupakan hewan yang dilindungi. Apalagi populasinya semakin hari semakin berkurang, sehingga meninggalnya Yani dinilai sebagai persoalan serius. BKSDA pun akan meminta keterangan dari pihak pengelola. Hal itu untuk mencari titik pangkal persoalan kenapa Yani bisa terlantar hingga akhirnya meninggal. "Kita akan mengumpulkan berbagai keterangan kenapa ini bisa terjadi," katanya.
 
Ke depan, pihaknya akan menyiapkan teguran bagi pengelola yang merupakan pihak swasta. Harapannya agar nantinya tidak terjadi lagi yang serupa. "Pasti ada teguran dari BKSDA. Nanti akan dilihat kesanggupan pengelola, dalam menjalankan tugasnya dalam mengelola konservasi itu. Sekitar satu hingga dua bulan akan dipantau nantinya," tambahnya.
 
Sylvana menyerukan, pengelola lembaga konservasi memiliki kewajiban penting untuk memenuhi kebutuhan satwanya. Mulai dari makan, minum hingga lingkungan tempat tinggal hewan wajib duperhatikan. (Jr.)**
.

Categories:Bandung,
Tags:,