Dua Hakim Tipikor Diringkus Terkait Suap Vonis Korupsi

Dua Hakim Tipikor Diringkus Terkait Suap Vonis Korupsi

Situasi ketika KPK melakukan OTT dan penggeledahan di Pengadilan Negeri Kepahyang Bengkulu. (foto - ist)

Bengkulu - Penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) kembali melakukan operasi tangkap tangan (OTT) terhadap dua orang hakim Tindak Pidana Korupsi (Tipikor), terkait dugaan suap vonis dalam kasus tindak pidana korupsi honor pembina rumah sakit M Yunus, Bengkulu. 

Selain menangkap dua hakim, penyidik pun menyita uang tunai sebesar Rp 150 juta. Kedua hakim itu, yakni hakim ad hoc di Pengadilan Negeri Bengkulu, Toton dan Ketua Pengadilan Negeri Kepahyang, Janner Purba. Dua warga, istri dan seorang anak Janner Purba pun turut ditangkap, serta seorang Panitera Pengadilan Negeri Bengkulu.

Dari penggeledahan, penyidik KPK berhasil mengamankan barang bukti uang tunai sebesar Rp 150 juta. Uang itu tersimpan di sebuah koper dan disembunyikan di dalam kamar pribadi di rumah dinas Janner di kawasan Jalan Cendana, Kelurahan Pasar Kepahyang Kabupaten Kepahyang.

Janner Purba sendiri ditangkap tim penyidik KPK di luar rumah saat tengah dalam perjalanan bersama istri dan seorang anaknya, Senin sore sekitar pukul 16.30 WIB. Sedangkan, Toton diringkus saat tengah berada di Pengadilan Negeri Bengkulu.

Selain Toton, penyidik turut menangkap Panitera Pengadilan Negeri Bengkulu, Billy. Sementara itu, dua warga sipil yang identitasnya belum diketahui juga ditangkap. Kedua warga itu diduga kuat sebagai kurir yang mengantarkan uang tunai Rp 150 juta kepada Janner Purba. Selain itu, penyidik KPK mengamankan dua tersangka lain, yakni Edi Santoni dan Safri Safei.

Penangkapan dua hakim itu dilakukan atas dugaan suap jelang pembacaan amar putusan dalam kasus tindak pidana korupsi honor pembina rumah sakit M Yunus, Bengkulu, yang rencananya akan digelar Selasa, 24 Mei ini, di Pengadilan Negeri, Bengkulu.

Terkait hal itu, mantan Wadir Umum dan keuangan RS M Yunus,  Edi Santoni dan mantan Kabag Keuangan RS M Yunus Bengkulu, Safri Safei duduk sebagai terdakwa. Diduga kuat, uang itu merupakan uang milik Edi Santoni dan Safri Safei. Uang itu diberikan kepada Janner Purba melalui jasa kurir dua warga, yang belum diketahui identitasnya sebagai uang suap agar putusan meringankan keduanya.

Janner Purba merupakan Ketua Majelis Hakim dalam persidangan dan Toton sebagai hakim anggota. Selain uang tunai, penyidik KPK turut menyita satu unit sepeda motor, satu unit mobil jenis Innova. Gingga tengah malam, kedelapan terduga masih dalam pemeriksaan di ruang Tipikor Reskrimsus Polda Bengkulu. Belum ada keterangan resmi dari penyidik KPK maupun Kapolda Bengkulu. (Jr.)**

.

Categories:Daerah,
Tags:,