Ketua PN Kepahiang dan Empat Lainnya Resmi Jadi Tersangka

Ketua PN Kepahiang dan Empat Lainnya Resmi Jadi Tersangka

Ketua Pengadilan Negeri Kepahiang Bengkulu, Janner Purba usai diperiksa intensig di gedung KPK Jakarta. (foto - ist)

Jakarta Ketua Pengadilan Negeri Kepahiang Bengkulu, Janner Purba resmi ditetapkan sebagai tersangka oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK)dalam kasus dugaan suap, terkait penanganan perkara korupsi honor pembina di Rumah Sakit M. Yunus, Bengkulu.
 
Janner ditetapkan bersama Toton selaku hakim adhoc di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Bengkulu, panitera pengganti PN Bengkulu Badarudin Bacshin, mantan Wakil Direktur Umum dan Keuangan RS M Yunus, Edi Santoni serta mantan Kabag Keuangan RS M Yunus Bengkulu, Safri Safei.
 
"Setelah diperiksa secara intensif selama 1x24 jam, penyidik KPK meningkatkan status penanganan perkara, dengan menetapkan lima orang menjadi tersangka," kata Plh Kepala Biro Humas KPK, Yuyuk Andriati saat jumpa pers di Gedung KPK Jakarta, Selasa (24/5/2016).
 
Menurut Yuyuk, Janner, Toton dan Badarudin disangka sebagai penerima suap. Sementara Edi dan Safri selaku terdakwa perkara korupsi di RSUD M Yunus disangka sebagai pemberi. Saat melakukan penangkapan, penyidik KPK turut mengamankan uang Rp 150 juta. "Uang itu diduga untuk mempengaruhi perkara dugaan korupsi di RS M Yunus Bengkulu yang disidang di Tipikor Bengkulu dengan terdakwa ES dan SS," kata Yuyuk.
 
Selaku pemberi suap Edi dan Safri disangka melanggar Pasal 6 Ayat (1) atau Pasal 6 Ayat (1) Huruf a atau b dan atau Pasal 13 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Tindak Pidana Korupsi jo Pasal 55 Ayat (1) ke-1 KUHP jo Pasal 64 Ayat (1) KUHP.
 
Sementara penerima Janner dan Toton, disangka Pasal 12 Huruf a atau b atau c atau Pasal 6 Ayat (2) atau Pasal 11 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Tindak Pidana Korupsi jo Pasal 55 Ayat (1) ke-1 KUHP jo Pasal 64 Ayat (1) KUHP.
 
Kemudian Badarudin disangka Pasal 12 Huruf a atau b atau c atau Pasal 6 Ayat (2) atau Pasal 5 Ayat (2) atau Pasal 11 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Tindak Pidana Korupsi jo Pasal 55 Ayat (1) ke-1 KUHP jo Pasal 64 Ayat (1) KUHP.
 
Sejauh ini, kelimanya masih menjalani pemeriksaan di dalam Gedung KPK. Sementara satu orang yang merupakan anak dari Janner yang turut digiring ke markas KPK, dikembalikan ke Bengkulu. (Jr.)**
.

Categories:Nasional,
Tags:,