Ujian Peserta SBMPTN 2016 Kerahkan Ribuan Pengawas

Ujian Peserta SBMPTN 2016 Kerahkan Ribuan Pengawas

Suasana ujian SBMPTN 2016. (foto - ist)

BandungPanitia Pokal (Panlok) 34 Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) 2016 mengerahkan sedikitnya 4.608 tenaga pengawas, untuk melancarkan jalannya ujian para peserta ujian SBMPTN 2016.

Di Panlok 34 Bandung sendiri jumlah peserta SBMPTN 2016 mencapai 46.056 siswa. Jumlah itu terbagi dua, 43.056 orang melaksanakan ujian di Sub-Panlok Bandung dan 3.000 orang di Sub-Panlok Tasikmalaya. "Pengawas mencapai 4.308 orang untuk di Bandung, dan 300 orang di Tasikmalaya," kata Sekretaris Eksekutif I Panlok 34 Bandung SBMPTN 2016 Asep Gana Suganda di  Labtek V Kampus Institut Teknologi Bandung (ITB), Selasa (31/5/2016).

Menurutnya, tenaga pengawas SBMPTN terdiri atas berbagai latar belakang. Untuk ujian di kampus pengawasnya dosen dan mahasiswa. Sedangkan untuk ujian di sekolah, tenaga pengawasnya adalah guru dan tenaga pendidik lainnya.

Peserta ujian SBMPTN 2016 di Panlok 34 Bandung tersebar di 233 lokasi, masing-masing 218 di Bandung dan 15 di Tasikmalaya. Keseluruhan ada 2.304 ruang yang dipakai sebagai lokasi ujian, yaitu 2.154 ruangan di Bandung dan 150 ruangan di Tasikmalaya. Ruangan itu mengambil lokal kelas di SD negeri, SMP negeri dan swasta, SMA negeri dan swasta serta kejuruan, dan perguruan tinggi baik negeri maupun swasta.

Sementara itu, Ketua Panitia Lokal 34 Bandung Arry Bainus mengatakan,  peserta SBMPTN 2016 dilarang membawa alat komunikasi dan mengenakan jam tangan. Untuk di atas meja hanya ada pensil 2B, penghapus dan kartu ujian.

Arry Bainus menyatakan, tahun lalu ada peserta yang memprotes pemakaian jam tangan. Dikhawatirkan jam tangan sebagai alat komunikasi untuk berbuat curang. Namun untuk persoalan waktu, pengawas telah diinstruksikan untuk menginformasikan waktu setiap 15 menit kepada peserta.

Untuk tahun ini, kata ari, dari sebanyak 46.056 peserta yang mengikuti SBMPTN 2016 yang terdaftar di Panlok 34 Bandung, ada 12 orang peserta yang berkebutuhan khusus dan 2 orang yang terpaksa mengikuti ujian dalam keadaan sakit.

"Mereka sakit demam berdarah dengue (DBD) dan sudah melapor sebelumnya. Yang satu sudah dapat mengikuti ujian. Sedangkan yang satunya lagi oleh dokter dinyatakan tidak dapat mengikuti ujian karena komplikasi DBD dan Thypus," katanya. Pihaknya tidak mentolerir adanya kecurangan saat ujian. Peserta yang berbuat curang akan ditandai untuk didiskualifikasi. Demikian juga pelaku perjokian akan ditetapkan sanksi serupa. (Jr.)**

.

Categories:Pendidikan,
Tags:,