Arogansi Satpol PP Kota Serang Bikin Publik Geram

Arogansi Satpol PP Kota Serang Bikin Publik Geram

Publik dan petinggi negara pun tidak ada yang membela aksi yang dilakukan Satpol PP Kota Serang, Banten dalam merazia warung makan. (foto - ist)

SIAPAPUN orangnya, termasuk para petinggi negara tidak ada yang membela aksi Satpol Pamong Praja (PP) Kota Serang Banten, yang melakukan razia warung makan Tegal (warteg) di bulan Ramadan ini. Salah satu korban di antaranya warung milik Saeni (53), yang semua masakan dagangannya "dihabisi" Satpol PP Serang, tanpa ada teguran atau peringatan lebih dahulu.

Saeni yang menjadikan rumahnya sebagai warung makan tak berdaya. Ia hanya bisa menangis yang kemudian jatuh sakit lantaran shock. Menteri Koordinator Politik, Hukum, serta Keamanan Luhut Binsar Pandjaitan juga angkat bicara. Dia memberikan instruksi terhadap beberapa Kapolda untuk melindungi agar tak melakukan lagi razia secara berlebihan.

Ia memohon umat beragama memprioritaskan toleransi, agar beribadah puasa jalan tambah baik. Juga untuk melindungi Indonesia tetap menyatu. Menurut Luhut, korban razia biasanya rakyat kecil, seperti yang menerpa Saeni di Serang. "Masing-masing agar menahan diri jangan seakan negara tak teratur, negara tidak mau ada keresahan. Kasihan kan penjual kecil, yang uangnya kecil selalu diobrak-abrik," tegas Luhut. 

Begitupun Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin turut menyapa langkah Satpol PP dalam merazia warteg itu. Menurutnya, aparat baiknya menggunakan langkah persuasif ketimbang menggunakan langkah yang berbuntut kontroversial. "Kita mengharapkan semoga langkahnya lebih manusiawi hingga tak menyebabkan pro-kontra," katanya.

Ia pun mengingatkan umat Islam yang berpuasa atau yang tidak puasa harus sama-sama melindungi kerukunan. Manfaat membuat kerukunan, butuh toleransi antar umat beragama. "Saya menginginkan di bulan puasa ini kita lebih menguatkan toleransi, ukhuwah bukan sekadar Islamiyah namun juga ukhuwah watoniah sebangsa," kata Menteri dari Partai Persatuan serta Pembangunan (PPP) itu.

Sementara Ketua DPR Ade Komarudin menyampaikan hal yang sama. Harusnya Satpol PP setempat tidak butuh mengadakan razia seperti itu, karena peringatan lisan dapat dikerjakan. Menurutnya, umat Islam tahu apa yang dikerjakan, termasuk mereka yang memiliki warung. Jika ada yang tidak cocok dengan ajaran agama, sepatutnya diingatkan dengan cara persuasif.

Berikan sanksi tegas

Sementaraa itu, Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara serta Reformasi Birokrasi (MenPAN-RB) Yuddy Chrisnandi memohon Walikota Serang, Banten memberi sanksi kepada petugas Satpol PP yang merazia serta mengambil makanan dari warteg punya Saeni. "Saya minta agar Walikota Serang memberi sanksi pegawainya karena melakukan tindakan terlalu berlebih," katanya.

Menurutnya, pegawai mesti mengubah langkah memikirkan dalam bekerja. Sebab PNS itu sebagai pelayan bukan penguasa rakyat. Jadi mesti memprioritaskan keadilan serta kemanusiaan dan kedekatan dalam proses bekerja. "Aksi Satpol Pemkot Serang memang baik untuk menegakkan aturan. Hanya, terlalu berlebih hingga tampak anti-pati dari orang-orang," kata Yuddy.

Yuddy berpendapat, harusnya petugas memberikan toleransi jika menemukan warung makan tetap beroperasi di bulan puasa, cukup menutupnya dan memberi peringatan tanpa harus mengambil makanannya. Sebab, mungkin makanan yang dibuatnya itu adalah hasil dari berutang.

Sejumlah bantuan

Nahas yang diderita Saeni pun mengundang empati beberapa petinggi negara, tidak kecuali Presiden Jokowi. "Siang tadi ada dari utusan Pak Jokowi ngasih pertolongan Rp 10 juta," aku Saeni.

Orang itu, kata Saeni menyampaikan utusan Istana itu mengemukakan pesan Jokowi padanya agar memakai uang pertolongan itu untuk membayar keperluan keseharian atau ganti lapak dagangannya, yang rusak lantaran dirazia oleh petugas Satpol PP.

Bantuan juga datang dari Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tjahjo Kumolo. Ia  memberi pertolongan duit tunai yang dimasukkan dalam amplop putih bertuliskan 'Mendagri Tjahjo Kumolo' kepada Saeni. "Saya diutus untuk mengemukakan amanah berbentuk duit dari Pak Menteri. Jumlahnya saya tidak paham, tidak berani buka," kata Direktur Jenderal Bina Lokasi Satpol PP Kemendagri, Asadullah.

Selain itu, Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok menyebutkan DKI tidak bakal mengikuti Serang yang bikin perda razia tempat tinggal makan sepanjang Ramadan. "Tidak ada razia, tidak ada perda," katanya.

Menurutnya, razia tempat tinggal makan sepanjang puasa tidak pas. Sebab, tak semuanya warga termasuk mereka yang beragama Islam berpuasa lantaran argumen spesifik, umpamanya sakit, manula, wanita haid, serta ibu menyusui.

Saat ini, Saeni telah sehat dan kembali berjualan di warteg dekat Pasar Induk Rawu, Serang. Ia membuka warungnya mulai sore hingga malam hari untuk, menghormati orang-orang yang tengah berpuasa. (Jr.)**

.

Categories:PenaCikal,
Tags:,

terkait

    Tidak ada artikel terkait