Ribuan Warga Jepang Tuntut Pangkalan Militer AS Ditutup

Ribuan Warga Jepang Tuntut Pangkalan Militer AS Ditutup

Sejak awal rencana pembuatan pangkalan militer Amerika Serikat (AS) di Okinawa Jepang ditentang warga. (foto - anibee.tv)

Okinawa - Puluhan ribu atau sekitar 65 ribu warga Okinawa Jepang menggelar unjuk rasa, menuntut pangkalan militer Amerika Serikat (AS) di wilayah itu segera ditutup. Unjuk rasa digelar setelah seorang warga AS ditangkap, karena terbukti sebagai pelaku pembunuhan seorang wanita lokal.

Dikutip dari Reuters, Senin (20/6/2016) salah seorang demonstran, Shigenori Tsuhako menuturkan, aksi itu dilancarkan karena apa yang telah dilakukan AS sudah di luar batas. Mereka menginginkan agar pangkalan militer itu segera dipindahkan dalam waktu dekat.

"Jepang adalah Jepang, ketika sebuah jari disakiti maka seluruh tubuh akan merasa sakit. Kami ingin Perdana Menteri Shinzo Abe merasakan sakit yang sama," kata Tsuhako. Pernyataan itu diamini pengunjuk rasa lain, Ryoko Shimabukuro, yang meminta PM Abe tak mengacuhkan permintaan rakyatnya. "Seluruh markas militer AS di Jepang harus ditutup. Saya minta PM Abe mendengarkan perkataan warga Okinawa," katanya.

Sebelumnya, dilansir Japan Times, tiga orang warga sipil yang bekerja di Pangkalan Militer AS di Okinawa ditangkap pihak keamanan setempat. Mereka dituduh sebagai pelaku pembunuhan seorang gadis berusia 20 tahun bernama, Rina Shimabukuro.

Perempuan itu hilang jejak sejak 28 April lalu. Ketika jasadnya ditemukan terdapat luka tusukan dan bekas perkosaan. Sampai saat ini Washington belum merespons protes besar yang terjadi di Okinawa. Namun, Komandan Pangkalan Militer AS di Okinawa, Letnan Jendera lLawrence D .Nicholson menyatakan, Marinir AS berencana mengembalikan tanah sebesar 40,5 kilometer persegi ke pemerintah daerah.

Mereka berencana, penyerahan itu dilakukan tahun depan. Jika terwujud maka tindakan itu pengembalian wilayah terbesar yang pernah dilakukan AS ke Okinawa. Bukan pertamakali kehadiran pangkalan ini jadi masalah. Protes serupa pernah terjadi pada 1996 ketika seorang Tentara AS memerkosa gadis berusia 12 tahun.

Protes itu berujung persetujuan AS memindahkan pangkalan militernya. Namun langkah itu batal dilakukan. Pasalnya, warga sekitar tempat baru pangkalan militer AS menolak kehadiran mereka dengan alasan dapat menimbulkan keributan, polusi dan kriminalitas. (Jr.)**

.

Categories:Internasional,
Tags:,