Fenomena 'Strawberry Moon' Menandai Titik Balik Matahari

Fenomena 'Strawberry Moon' Menandai Titik Balik Matahari

Penampakan fenomena

Wiltshire Penampakan fenomena "strawberry moon" memang tidak pernah ada di Indonesia, sehingga keberadaannya nyaris tidak dikenal oleh masyarakat. Namun, bulan tersebut hanya dapat dinikmati oleh masyarakat yang berada di negara empat musim, itu pun bagi negara yang letaknya di bagian utara garis khatulistiwa.
 
Bulan itu sebenarnya adalah fenomena yang menandai titik balik matahari, yakni ketika matahari bersinar di langit selama 17 jam atau lebih. Ia baru terbenam ketika waktu sudah memasuki jam delapan atau jam sembilan malam.
 
Seperti dilaporkan The Telegraph, belum lama ini sebutan itu berasal dari suku-suku kuno Algonquin yang mendiami Amerika Utara. Mereka memakai purnama di bulan Juni sebagai almanak musim panen stroberi. Adapun warna bulannya sendiri memang tidak biasa, mulai dari amber, pink hingga merah darah.
 
Strawberry moon berwarna pink memang jarang terjadi. Pernah didokumentasikan pertamakali pada tahun 1967. Bagi masyarakat yang tinggal di wilayah empat musim, bulan stroberi tidak sekadar pemandangan yang unik, tapi juga merupakan awal perayaan besar, yaitu festival titik balik matahari.
 
Salah satu tempat yang biasa dijadikan perayaan titik balik matahari tersebut, yakni Stonehenge di Wiltshire, Inggris. Festival itu berlangsung selama empat hari pada setiap tahunnya. Dua hari sebelum dan setelah tanggal 21 Juni lalu, merupakan awal kemunculan bulan stroberi hingga berakhirnya titik balik matahari. (Jr.)**
.

Categories:Unik,
Tags:,

terkait

    Tidak ada artikel terkait