Muncul Petisi Hukum Mati bagi Pasutri Pembuat Vaksin Palsu

Muncul Petisi Hukum Mati bagi Pasutri Pembuat Vaksin Palsu

Hidayat Taufiqurahman dan Rita Agustina, pasutri asal Bekasi sebagai tersangka produsen atau pembuat vaksin palsu untuk balita. (foto - ist)

Jakarta - Siapapun tampaknya mulai geram atas apa yang dilakukan Hidayat Taufiqurahman dan Rita Agustina. Pasangan suami istri (pasutri) asal Bekasi, Jawa Barat itu merupakan produsen atau pembuat vaksin palsu untuk balita.
 
Keduanya pun telah ditangkap dan ditetapkan sebagai tersangka oleh penyidik Direktorat Tindak Pidana Ekonomi dan Khusus Bareskrim Polri. Muncul sebuah petisi muncul di situs change.org, yang meminta keduanya dihukum mati.
 
Berdasarkan pengamatan di situs change.org, petisi itu dibuat oleh Rosa Roosmawati dan ditujukan kepada Presiden Jokowi dan Kapolri Jenderal Badrodin Haiti. Dalam petisinya, Rosa menyebut produsen vaksin palsu untuk balita tidak ada bedanya dengan bandar narkoba. 
 
Keduanya sama-sama dianggap merusak generasi bangsa khususnya anak-anak. "JIka narkoba merusak generasi bangsa, bandarnya dihukum mati. Apa bedanya dengan pasutri pembuat vaksin palsu?," kata Rosa seperti dikutip dalam situs change.org, beberapa waktu lalu.

"Orang yang paling kejam di dunia, yakni orang yang menyakiti dan melukai anak - anak. Sejak tahun 2003 mereka beraksi, membuat vaksin palsu, menyebarkan di seluruh Indonesia. Bayangkan, berapa sudah jatuh korban anak - anak yang tak bersalah?," lanjutnya.

Dalam petisi itu, Rosa juga menyindir kelakuan pasutri itu yang memamerkan harta dan kekayaannya dari hasil penjualan vaksin palsu. Ia pun menganggap Hidayat dan Rita pantas dihukum mati. Fakta juga, pasutri ini senang-senang di atas penderitaan orang lain. Pamer harta dan kekayaan di sosial media, yang mana harta itu didapat dengan cara 'meracuni' balita.
 
"Ini luar biasa kejam. Mereka berdua harus dihukum mati. Balita yang lucu, yang punya hak untuk sehat, yang punya hak untuk hidup, punya hak hidup dengan sempurna, sebagian dari mereka menjadi cacat bahkan meninggal setelah diimunisasi," demikian bunyi petisi itu.

Sebelumnya, sindikat pemalsu vaksin untuk balita diungkap Penyidik Direktorat Tindak Pidana Ekonomi Khusus Bareskrim Polri. Dari sejumlah pelaku, terdapat pasutri atau pasangan suami istri, yakni Hidayat Taufiqurahman dan Rita Agustina.

Keduanya diduga sebagai produsen dan otak sindikat pembuatan vaksin palsu, yang ditangkap di kediaman mewahnya, Perumahan Kemang Regency Jalan Kumala 2 Bekasi Timur, Kota Bekasi. Di media sosial beredar foto-foto selfie pasangan suami istri itu. (Jr.)**
.

Categories:Nasional,
Tags:,