Ribuan Warga Inggris Melancarkan Protes Tolak Brexit

Ribuan Warga Inggris Melancarkan Protes Tolak Brexit

Ribuan warga Inggris berunjuk rasa di Parliament Square London meolak Inggris keluar dari Uni Eropa (Brexit). (foto - ist)

London - Ribuan warga Inggris merapatkan barisan di Ibukota Inggris, London, pada Sabtu waktu setempat. Mereka melakukan protes keluarnya Inggris dari Uni Eropa (Brexit), berdasarkan hasil referendum beberapa waktu yang lalu.
 
Dilansir BBC, Minggu (3/7/2016) para pengunjuk rasa yang dimotori oleh organisasi yang dibentuk di media sosial itu berkumpul di sekitar Park Line, dengan memegang plakat bertuliskan "Bremain" dan "We Love European Union" sebelum menuju ke Parliament Square.
 
Menurut salah seorang demonstran, Mark Thomas, hasil referendum yang menyatakan kemenangan bagi kelompok Brexit dengan persentase 52 persen, akhirnya telah menyebabkan beberapa warga Inggris yang kehilangan suara dalam referendum mengamuk.
 
Sementara itu, Koordinator Demonstrasi Keiran Mac Dermott mengatakan, massa demonstran berharap pemerintah bisa menghentikan proses keluarnya Inggris dari apa yang sudah tercantum dalam Pasal 50 Undang-undang Uni Eropa.
 
Di antara kerumunan para demonstran, Bill Baker (59) dan putrinya Jess Baker (22) yang berasal dari Islington, London Utara juga membuat banner yang bertuliskan "Aku Akan Selalu Mencintai Uni Eropa". Jess Baker mengaku masih menginginkan Inggris tetap berada di kawasan benua biru itu. "Kami tidak ingin pergi (dari Uni Eropa). Kami masih ingin Inggris menjadi anggota Uni Eropa yang tetap berorientasi dan inklusif,"  katanya.
 
Kendati tidak ada angka yang pasti berapa jumlah demonstran, setidaknya ribuan orang telah memadati setiap ruas jalan Hyde Park. Sebagian besar para demonstran terdiri atas kalangan muda, setengah baya, orangtua sampai dengan orang-orang yang telah menempuh perjalanan jauh.
 
Rencana aksi itu dilakukan sudah sejak satu pekan lalu, di mana banyak dari para demonstran menghabiskan waktunya di media sosial untuk berbagi meme  anti-Brexit secara daring. Isinya, menyuarakan keprihatian mereka secara personal atas hasil referendum.
 
Sementara plakat  dan spanduk yang disuarakan oleh demonstran sangat mengekspresikan rasa kemarahan, kebencian juga rasa frustrasi dari kurangnya peran pemerintah pasca-hasil pemungutan suara. Salah satunya, ditunjukan oleh Laura Honickberg (33) yang berasal dari London. "Saya Yahudi dan saya menemukan kebangkitan nasionalisme dan kejahatan di Eropa. Ini sangat memprihatinkan," katanya.
 
Sementara itu, Reuters melaporkan, warga menilai Uni Eropa telah berjasa saat Inggris tengah dilanda krisis politik. Para demonstran pun membalut tubuh mereka dengan bendera Uni Eropa. Lainnya mengenakan banner bertulis "Saya berada di UE atau Wrexit".
 
Mereka berjalan ke distrik politik Westminster sambil menyanyikan lagu Never Gonna Give You Up milik Rick Astley, dan I Will Always Love You milik lagu Whitney Houston. "Jadi apa yang kita ingin lakukan? Tetap dalam UE," teriak para demonstran. (Jr.)**
.

Categories:Internasional,
Tags:,