Patung Soekarno Hatta Jadi Ajang Vandalisme

Patung Soekarno Hatta Jadi Ajang Vandalisme

Warga Berfoto Di depan Patung Soekarno Hatta Yang Menjadi Jadi Ajang Vandalisme

Muntok - Patung Soekarno-Hatta yang berada di pusat Kota Mentok, Kabupaten Bangka Barat, Kepulauan Bangka Belitung menjadi tempat aksi vandalisme dengan cara mencorat-coret yang dilakukan oknum tidak bertanggung jawab.

 "Patung Proklamator RI ini seharusnya menjadi kebanggaan warga, bukan malah menjadi ajang corat-coret yang mengganggu kenyamanan dan keindahan kota," ujar salah seorang warga Mentok, Fandi (36), Senin (10/11/2014).

 Aksi vandalisme yang dilakukan oknum tidak bertanggung jawab itu sepertinya sebentuk protes dari si penulis akan kondisi saat ini. Pencoret menuliskan kalimat "PAHLAWAN KOK GELAP" dengan menggunakan bahan cat semprot berwarna perak.

 Tulisan berhuruf kapital itu dicoretkan pada batu besar warna hitam di sisi kiri patung Soekarno-Hatta dan terlihat cukup mencolok dan mudah dibaca para pengendara dan pejalan kaki yang melewati lokasi itu.

 Coretan di patung yang menempati lokasi berukuran sekitar delapan meter persegi itu sepertinya dibuat belum lama karena secara kebetulan bertepatan dengan Hari Pahlawan yang diperingati setiap 10 November.

 "Sepertinya oknum ingin protes karena memang lokasi tersebut kurang terang pada malam hari, atau karena masih seringnya terjadi pemadaman listrik oleh PLN," kata Fandi.

Jika memang seperti itu, ia berharap pemerintah daerah menanggapinya dengan positif dengan memberikan pelayanan lebih maksimal.

 Tulisan yang cukup mencolok tanpa menuliskan nama pembuatnya itu sempat menjadi perhatian sejumlah warga yang mengikuti upacara Hari Pahlawan yang digelar di Lapangan Gelora Muntok yang berlokasi tepat di samping patung tersebut.

Sekretaris GP Ansor Kabupaten Bangka Barat, Edy Rahmad mengatakan aksi corat-coret seperti itu masuk dalam kategori perusakan fasilitas umum dan mengganggu kenyamanan warga.

Menurut dia, para pegiat seni atau warga yang ingin menuangkan ide-ide kritis dan membangun melalui seni lukis dinding agar lebih terarah dan bertanggung jawab, sehingga bisa membuat kesan kota menjadi rapi, asri dan beretika.

"Kalau seperti ini sudah mengarah pada penyimpangan seni atau perusakan dan jelas tidak memiliki izin. Kami berharap sebagai warga Muntok yang beretika sebaiknya jika ingin membuat mural atau seni lukis dinding sesuai prosedur yang berlaku dan dikerjakan dengan mempertimbangkan estetika dan norma yang berlaku, jangan hanya asal coret yang tidak jelas seperti itu," kata dia. (AY)

.

Categories:Nasional,
Tags:nasional,