104 Juta Jiwa Terancam Banjir dan Longsor Hingga 2017

104 Juta Jiwa Terancam Banjir dan Longsor Hingga 2017

Fenomena La Nina mempengaruhi kondisi iklim di berbagai wilayah di Indonesia yang diprediksi akan bertahan hingga awal 2017. (foto - ilustrasi)

Jakarta - Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) telah melakukan pendeteksian terhadap munculnya fenomena La Nina, sejak akhir Agustus 2016 lalu. Fenomena tersebut dalam skala global mempengaruhi kondisi iklim di berbagai wilayah di Indonesia, yang diprediksi akan bertahan hingga awal 2017.
 
Kepala BNPB, Willem Rampanggiley mengakui, pihaknya belum menyelesaikan seluruh peta rawan bencana di 134 kabupaten. Saat ini, BNPB baru menyelesaikan 100 peta kabupaten."Di 35 Provinsi, sudah kita buat dengan skala 1:250.000, sedangkan untuk kabupaten skalanya harus kecil. Itu berbanding 1:50000. Belum semua kabupaten kita petakan," kata Willem.
 
Menurutnya, peta rawan bencana tersebut diperlukan untuk mengetahui potensi penduduk yang terpapar bencana. Khusus untuk bencana banjir dan tanah longsor, akan menjadi prioritas karena mendekati puncak musim hujan.
 
"Kita tahu, seluruh wilayah Indonesia yang terpapar oleh bahaya banjir tersebut mencapai 63,7 juta jiwa. Sedangkan longsor sebanyak 40,9 juta jiwa. Ini yang menjadi prioritas pemerintah, bagaimana kita menyelamatkan saudara-saudara kita yang tinggal di daerah rawan banjir dan bencana," katanya.

Ia menyatakan, sesuai dengan RPJMN 2015-2019 diamanatkan, negara harus menurunkan indeks risiko bencana di 136 kabupaten kota. BNPB pada tahun ini menargetkan adanya indikator penurunan sekitar 30 persen.

Sejalam dengan La Nina, juga sudah terjadi fenomena Diple Mode negatif sejak Mei 2016. Fonema itu akan bertahan hingga November 2016, dan terjadi kondisi anomali suhu muka laut yang hangat sekitar perairan Indonesia. Ini yang menyebabkan tingginya curah hujan khususnya di Sumatera dan Jawa bagian barat. (Jr.)**
.

Categories:Nasional,
Tags:,