Jutaan Jemaah Haji Larut dalam Zikir dan Doa di Arafah

Jutaan Jemaah Haji Larut dalam Zikir dan Doa di Arafah

Jutaan jemaah melaksanakan wukuf sebagai puncak pelaksanaan haji di Padang Arafah Mekah Arab Saudi, Minggu (11/9/2016) sore.

Mekah - Di sela-sela zikir dan membaca Alquran, para jemaah haji Indonesia juga mendengarkan khotbah wukuf, yang digelar di tenda-tenda di Padang Arafah Mekah Arab Saudi. Seperti di tenda Misi Haji Indonesia, anggota Amirul Hajj, Miftahul Akhyar Abdul Ghina yang menjadi Khotib mengajak para jemaah untuk menangkal kekuatan raksasa di atas bumi, yang penuh dengan kecurangan dan pemerasan.
 
Menurutnya, hal itu hanya dapat dilakukan dengan takwa. Predikat itu dapat dicapai antara lain dengan ibadah haji. "Dalam keadaan berIhram jangan sakiti binatang-binatang, termasuk serangga. Untuk sementara waktu hiduplah dengan cinta," pesan Miftah kepada jemaah haji Indonesia dalam khotbah wukuf, Minggu (11/9/2016).
 
Apabila hal itu masih dilakukan, berarti manusia itu masih mengingat, melirik dan mementingkan diri (syahwat)-nya. Padahal semuanya telah dilepas saat di miqat, dengan mengganti kain putih sebagai lambang pemersatu manusia. "Pakaian melambangkan pola, preferensi, status dan perbedaan tertentu. Pakaian melahirkan batas palsu yang menyebabkan perpecahan di antara umat manusia, dan hampir pasti perpecahan melahirkan diskriminasi," katanya.
 
Miftah menjelaskan, dari perpecahan itu akan timbul konsep keakuan bukan kami atau kita. "Kata 'Aku' dipergunakan dalam konteks seperti rasku, kelasku, kelompokku, kedudukanku, keluargaku maupun nilai-nilaiku," ungkapnya.
 
Manusia terpecah-pecah menjadi berbagai ras dan kelompok, yang masing-masing di antaranya memiliki status, nilai, nama dan kehormatannya sendiri. Namun apa gunanya semua itu dimiliki, yang hanya menonjolkan diri sendiri. "Kini lepaskanlah pakaianmu itu dan tanggalkan di miqat. Apa pun ras dan suku kalian, gantilah dengan kain putih yang sederhana," tegasnya.
 
Ia juga mengingatkan, jemaah jangan bertinggi hati ketika berada di Tanah Haram. Sebab saat ini tengah memenuhi panggilan pemilik alam semesta, yaitu Allah SWT. "Hendaklah kalian datang dengan kerendahan hati. Juga menjadi manusia yang menyadari kefanaan atau menjadi manusia fana, yang menyadari eksistensi Allah SWT," demikian pesan Miftah. (Jr.)**
.

Categories:Internasional,
Tags:,