Blackberry Akhirnya Menyerah Stop Produksi Smartphone

Blackberry Akhirnya Menyerah Stop Produksi Smartphone

Blackberry akhirnya menghentikan produksi smartphone. (foto- ilustrasi)

Waterloo -  Sempat menjadi pemimpin pasar setelah 14 tahun bertahan di industri ponsel pintar, Blackberry akhirnya memutuskan untuk benar-benar meninggalkan bisnis perangkat tersebut. Blackberry pun butuh waktu setahun untuk memutuskan hal itu.

Seperti dilaporkn BBC, Kamis (29/9/2016) niatan Blackberry untuk tidak lagi memproduksi ponsel sebetulnya telah ada sejak setahun lalu. Dalam situs resminya, perusahaan asal Kanada itu mempertegas posisi perusahaan sebagai produsen software. "Software adalah Blackberry yang baru," tulis situs resmi Blackberry.

Sementara situs Business News Network (BNN) Kanada menyebutkan, CEO Blackberry pun sudah menyatakan hal itu. Bahkan, mereka bersiap untuk melakukan pengurangan karyawan (pemutusan hubungan kerja/ PHK), karena tidak lagi mengurus divisi perangkat mobile.

"Kami telah memutuskan untuk tidak lagi memproduksi perangkat hardware. Hanya hardware. Kami percaya, hal itu merupakan cara terbaik untuk meraih keuntungan di bisnis perangkat," sebut CEO Blackberry, John Chen.

Menurut Chen, produksi smartphone akan dilimpahkan kepada mitra Blackberry yang ditunjuk. Ini secara tidak langsung akan mengurangi pengeluaran Blackberry. Termasuk menghilangkan kebutuhan distribusi perangkat, melakukan pengurangan karyawan dan mengurangi biaya peralatan. "Daftar yang panjang untuk bisa berhemat," katanya.

Pengurangan karyawan merupakan langkah selanjutnya bagi Blackberry, untuk selanjutnya memutuskan menggandeng mitra outsource dalam memproduksi ponsel. Mereka yang akan terkena PHK adalah para pekerja di divisi logistik dan perbaikan. 

Langkah itu diambil, karena adanya hasil yang tidak memuaskan pada penjualan smartphone kuartal terakhir. Pada kuartal kedua tahun fiskal Blackberry yang berakhir 31 Agustus, perusahaan itu melaporkan hanya menjual 400 ribu unit smartphone. Termasuk smartphone Priv berbasis Android, dan DTEK50 yang dijual seharga 271 dolar AS atau Rp 3,5 jutaan.

Sementara di Indonesia, Blackberry mendirikan perusahaan patungan bernama PT BB Merah Putih untuk lisensi software perangkat. Sedangkan produksi smartphone berbasis Android mengandalkan software BB, akan digarap oleh PT Tiphone Indonesia. (Jr.)**

.

Categories:Infotech,
Tags:,

terkait

    Tidak ada artikel terkait