Penyebab Hujan Ekstrem di Sejumlah Wilayah vesi BMKG

Penyebab Hujan Ekstrem di Sejumlah Wilayah vesi BMKG

Penyebab Hujan Ekstrem di Sejumlah Wilayah vesi BMKG. (foto - ilustrasi)

Jakarta - Sejumlah wilayah Indonesia masih dibayangi kondisi cuaca turun hujan. Bahkan, beberapa terbilang ekstrem yang berdampak pada bencana lain, seperti banjir yang melanda kawasan Jalan Pasteur Bandung Jawa Barat, Senin lalu.
 
Menurut Badan Metereologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), saat ini indikasi potensi hujan lebat disertai petir dan angin kencang masih terjadi. Utamanya di sebagian Sumatera bagian Tengah dan Selatan, Babel, sebagian besar Jawa, Kalimantan Barat bagian selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Sulawesi bagian Tengah, Selatan dan Tenggara serta Papua.
 
"Masyarakat diimbau agar waspada dan berhati-hati terhadap dampak yang dapat ditimbulkan seperti banjir, tanah longsor, banjir bandang, genangan, pohon tumbang dan jalan licin," kata Kepala Sub Bidang Informasi Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika, Hary Tirto Djatmiko, Selasa (25/10/2016).
 
Menurutnya, terjadinya kondisi cuaca tersebut sebagai bentuk umpan balik yang signifikan, akibat pelepasan dari tarikan massa udara badai tropis Sarika dan Haima yang kini mulai menghilang. Oleh karena itu, kondisi cuaca ditengarai oleh suplai uap air yang direpresentasikan oleh kondisi suhu muka laut yang hangat/panas, dengan anomali positif antara 0.5– 20 derajat Celsius. 
 
Itu sebabnya pembentukan dan pertumbuhan awan hujan masih signifikan di sebagian besar perairan Indonesia. "Terutama di perairan sekitar Jawa hingga Nusatenggara, Sulawesi bagan Selatan, perairan Utara Maluku dan Papua," katanya.
 
Penyebab berikutnya, terjadinya anomali suhu permukaan laut di Samudera Hindia sebelah Barat Sumatera Selatan dan Jawa yang lebih tinggi, dibandingkan Samudera Hindia sebelah Timur Afrika yang dikenal dengan istilah Indian Ocean Dipole Mode (fenomena Dipole Mode Negative). I
 
ni berimplikasi pada terdorongnya massa uap air menuju ke Indonesia bagian Barat, yang menjadi tambahan suplai uap air dalam pembentukan dan pertumbuhan awan hujan.
 
Oleh karena itu, Hary mengingatkan potensi curah hujan sampai akhir Oktober 2016 diprediksi akan terus meningkat. "Dengan potensi curah hujan tinggi pada periode bulanan, indikasi potensi hujan deras yang berskala harian dapat dimungkinkan meningkatkan bencana hidrometeorologi," katanya. (Jr.)**
.

Categories:Infotech,
Tags:,