Rakyat Zambia Beri Penghormatan Terakhir pada Presidennya

Rakyat Zambia Beri Penghormatan Terakhir pada Presidennya

Rakyat Zambia Beri Penghormatan Terakhir pada Presidennya

Lusaka - Puluhan ribu orang Zambia menyaksikan Selasa (11/11/2014) proses pemakaman Presiden Michael Tata yang meninggal di satu rumah sakit London dua pekan lalu.

Mereka yang berkabung memadati Stadion Pahlawan di Lusaka, ibu kota Zambia untuk memberikan penghormatan terakhir sebelum dikebumikan di tempat khusus yang disediakan bagi para kepala negara Zambia. Stadion itu memiliki 50.000 tempat duduk.

Gerald, salah seorang putera Sata, juga menyampaikan pesan terakhir bagi ayahnya, mengambil mikrofon menyanyikan "Dance with My Father" oleh Luther Vandross.

Dalam suasana penuh emosi, para pelayat yang mengenakan pakaian hitam membawa potret mendiang presiden itu, meneteskan air mata ketika Gerald Sata bernyanyi.

Sata wafat pada usia 77 tahun selagi menjalani perawatan karena penyakit yang tak diungkapkan.

Ia adalah pemimpin kedua Zambia yang meninggal ketika berkuasa. Pada 2008 Levy Mwanawasa meninggal di Prancis setelah sakit.

Sata, yang mendapat julukan "Raja Kobra" karena ucapannya yang pedas, digantikan oleh Wakil Presiden Guy Scott sampai pemilihan diadakan dalam waktu 90 hari sejak kematiannya.

Scott -- yang orangtuanya keturunan Inggris dan pemimpin kulit putih pertama Afrika sejak era apartheid Afrika Selatan -- tidak dapat berlaga karena konstitusi Zambia melarang para kandidat dari keturunan asing langsung.

Sata naik ke tampuk kekuasaan pada pemilihan 2011 dengan janji-janji populis untuk mentransformasi negara kaya tembaga itu dalam waktu 90 hari dengan membasmi korupsi, menurunkan pajak dan menciptakan lapangan kerja.

Tetapi para pengeritik Sata mengatakan bahwa mantan polisi itu telah mentransformasi menjadi populis otoriter karena kebijakannya menyasar lawan-lawan politik.

Ia berusaha mengikuti pemilihan presiden setelah empat usaha dalam pemilihan. (AY)

.

Categories:Internasional,