Heboh, Pria Bikin Sayembara Penggal Ahok Hadiah 1 Miliar

Heboh, Pria Bikin Sayembara Penggal Ahok Hadiah 1 Miliar

Seorang pria tua dilaporkan ke Polda Metro Jaya karena buat Sayembara Rp 1 milliar bagi pemenggal kepala Ahok. (foto - ist)

Jakarta - Seorang pria tua yang melakukan sayembara untuk memenggal keala Basuki Tjahaya Purnama (Ahok) senilai Rp 1 miliar, dilaporkan Jaringan Advokasi Republik Indonesia (JARI) ke Polda Metro Jaya.

'Sayembara' itu direkam video, di tengah kunjungan Cagub petahana Ahok ke Rawabelong Jakarta Barat dan telah tersebar luas di masyarakat. Dalam tayangan video yang viral di Youtube itu, pria tua dengan berpeci putih dan bersorban hijau dikalungkan memakai pengeras suara melakukan sayembara.

"Bagi siapa pun yang bisa memenggal kepala Ahok akan diberi uang sebesar Rp 1 miliar". Namun, dalam video itu tidak diketahui lokasi pria tua tersebut melakukan sayembara. Namun pria menyebut daerah Kebon Jeruk Jakarta Barat. 

Sepertinya tayangan terjadi saat waktu kampanye cagub dan cawagub DKI, karena pria tersebut menyebut Ahok sebagai pasangan nomor urut 2.

Menurut Ketua JARI, Krisna Murti pernyataan pria itu sudah keterlaluan, karena dilontarkan di depan aparat kepolisian dan masyarakat. Disebutkan, seorang pria sekitar 60 tahun umurnya yang kita lihat dan kita dengar dari media mengatakan, bawa kepala Ahok dan kita akan bayar satu miliar. 

"Di depan para petugas dia menyebutkan juga etnis Sara (Suku, agama, ras dan antargolongan) dan sebagainya. Menurut kami dari Jaringan Advokat Republik Indonesia ini sudah sangat di luar batas," kata Krisna di Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) Polda Metro Jaya, Senin (7/11/2016).

Untuk itu, ia melaporkan adanya pernyataan yang sudah viral di media sosial tersebut. Bahkan, dirinya mengakui sebelum membuat laporan polisi, terlebih dahulu berdiskusi dengan ulama dan kyai.

"Artinya, kami melihat di sini semacam sayembara jaman kerajaan. Diiming-imingi seseorang dengan pidato di depan umum. Memancing seseorang untuk berbuat pembunuhan. Ini sudah di luar batas hukum. Makanya kami ingin segera diproses dan dipanggil pria itu," katanya.

Sejauh ini, Krisna pun belum mengetahui identitas pria tua itu. "Dia mengaku seorang ustad yang berpakaian ulama, namanya masih proses lidik. Untuk sekarang belum tahu namanya. Tempatnya di Rawa Belong," tegasnya.

Sementara itu, Kyai Mohammad Rozy yang mendampingi laporan mengatakan, dari redaksional yang diucapkan pria tua ituada beberapa kalimat yang bisa keluar dari ajaran agama Islam. "Pertama, memerintahkan seseorang untuk melakukan pembunuhan dengan diberi hadiah. Secara psikologis, sudah mendorong seseorang melakukan kejahatan dan itu dilarang oleh Islam," katanya.

Lalu, pria itu berusaha membuat suasana antara bangsa ini menjadi tempur berkelahi, sehingga tidak ada kedamaian jauh dari Islam. "Islam tidak menghendaki adanya hal itu. Perbedaan boleh tapi pembunuhan dan lainnya tidak boleh. Diharamkan dalam Islam," katanya.

Ia membandingkan kasus dugaan penistaan agama yang dilakukan Ahok dengan apa yang dilakukan pria tua berpeci itu. "Kalau boleh saya imbangkan, kalau Ahok dalam kapasitasnya tidak tahu agama (Islam), kemudian mengatakan sesuatu dianggap sebagai kesalahan. Ini orang mengerti agama, memerintahkan membunuh," katanya.

Ia mendesak pemerintah untuk memproses orang tersebut. "Kalau saya sebagai Kepala Negara. Ini yang lebih dulu saya proses. Ini yang merusak kesatuan bangsa. Biarpun dia seagama dengan saya tapi perilakunya menyimpang dari hukum agama dan norma berbangsa dan bernegara saya setuju ini dulu yang dihukum," katanya.

Dalam laporan bernomor LP/ 5442/ XI/ 2016/ PMJ/ Ditreskrimsus 7 November 2016, pria tua itu dijerat Pasal yang disangkakan pengancaman melalui media elektronik, yakni Pasal 29 jo Pasal 45 ayat 1 UU RI No 11 tahun 2008, tentang ITE (Informasi dan Transaksi Elektronik) dan atau Pasal 336 KUHP. (Jr.)**

.

Categories:Nasional,
Tags:,