Konflik di Suriah dan Irak, 13,6 Juta Orang Terdampar

Konflik di Suriah dan Irak, 13,6 Juta Orang Terdampar

Konflik di Suriah dan Irak, 13,6 Juta Orang Terdampar

Jenewa - Sekitar 13,6 juta orang, sama dengan populasi kota London, telah terdampar akibat konflik-konflik di Suriah dan Irak, banyak tanpa makanan atau tempat berlindung ketika musim dingin mulai, kata badan pengungsi Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNHCR) Selasa (11/11/2014).

Direktur UNHCR untuk Timur Tengah dan Afrika Utara, Amin Awad, mengatakan dunia menjadi mati rasa atas kebutuhan pengungsi.

"Sekarang ketika kita bicara tentang sejuta orang terdampar selama dua bulan, atau 500.000 orang semalam, dunia tak menanggapi," kata dia kepada wartawan di Jenewa.

Dari 13,6 juta orang itu, 7,2 juta terdampar di Suriah -- kenaikan dari perkiraan yang telah lama dipegang PBB sebanyak 6,5 juta dan juga 3,3 juta pengungsi Suriah di luar negeri, 1,9 juta di Irak dan 190.000 yang telah pergi mencari keselamatan.

Mayoritas pengungsi Suriah pergi ke Libanon, Yordania, Irak dan Turki, yang oleh Awad dikatakan "membuat kita semua malu" dengan bantuan mereka bagi para keluarga Suriah yang tak memiliki rumah.

"Negara-negara lain di dunia khususnya pihak-pihak di Eropa dan selebihnya, hendaknya membuka perbatasan-perbatasan mereka dan membagi beban." UNHCR menyatakan pihaknya memerlukan 58,5 juta dolar dalam bentuk donasi untuk mempersiapkan 990.000 orang saat musim dingin, uang yang akan mencakup pemasokan dasar seperti alas dari plastik dan pakaian hangat.

Tanpa dana untuk mencakup semua kebutuhannya, badan itu memberikan prioritas bantuan bagi orang-orang di wilayah-wilayah yang lebih tinggi dan lebih dingin dan kemudian bagi yang lebih rentan seperti bayi-bayi yang baru lahir.

Awad mengatakan Rusia dan Tiongkok, keduanya anggota Dewan Keamanan PBB yang anggota-anggota lainnya termasuk kekuatan-kekuatan besar Barat telah gagal menyepakati aksi untuk mengurangi dampak perang di Suriah, berada di jajaran bawah dari daftar pendonor tertinggi dan seharusnya memberikan bantuan lebih.

"Secara politis mereka sungguh tidak berbeda, karena itu humaniter merupakan imperatif dan harus ditempatkan pertama jika tak ada penyelesaian (politik) ... mereka perlu menyumbang satu cara atau lainnya, seperti yang lain-lain juga," kata dia. (AY)

.

Categories:Internasional,