PBB Tuding Myanmar Berniat 'Bersihkan' Muslim Rohingya

PBB Tuding Myanmar Berniat 'Bersihkan' Muslim Rohingya

Gambar yang diambil dari satelit menunjukkan adanya pembakaran dan penghancuran desa-desa yang dihuni kaum Muslim di negara bagian Rakhine, Myanmar. (foto - Human Rights Watch)

Rakhine - Kekerasan yang terjadi di Rakhine merupakan upaya pemerintah Myanmar untuk "membersihkan" etnis Muslim Rohingya. Demikian penilaian Pejabat Tinggi Badan Pengungsi Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNHCR) John McKissick.

Selama enam pekan terakhir, Angkatan Bersenjata Myanmar melakukan operasi dengan mengusir dan membunuh Rohingya di Negara Bagian Rakhine. Hal itu berakibat pengungsian secara besar-besaran ke negara tetangga Bangladesh.

"Untuk mengatasi masalah tersebut pemerintah harus berfokus pada akar penyebab. Militer Myanmar dan petugas penjaga perbatasan telah membunuh, memperkosa wanita, membakar dan menjarah rumah. Bahkan, memaksa mereka untuk menyeberangi sungai," kata McKissick, saat berada di kota perbatasan kedua negara itu.

Dikutip dari BBC, Jumat (25/11/2016)  McKissick menyatakan, sisi lain pemerintah Bangladesh mengalami dilema dan sangat sulit untuk membuka lebar-lebar perbatasannya. Hal itu menjadi kesempatan bagi pemerintah Myanmar, untuk melanjutkan kekejaman hingga tujuan akhir mereka tercapai. Yakni membersihkan semua etnis Rohingya.

Menurut McKissick, meski Bangladesh memiliki kebijakan resmi melarang pendatang ilegal melintasi perbatasan, kementerian luar negeri mengonfirmasi bahwa ribuan orang Rohingya telah memasuki negaranya.

Sementara ribuan orang lainnya masih berkumpul di perbatasan. Meski demikian, informasi terkini mengenai nasib Rohingya belum bisa terkonfirmasi, lantaran media dan organisasi bantuan kemanusiaan internasional dilarang mengunjungi Rakhine.

Etnis Rohingya yang jumlahnya sekitar satu juta jiwa dipandang oleh negara yang sebagian besar beragama Buddha itu, sebagai imigran ilegal dari Bangladesh. Namun, baik Myanmar dan Bangladesh enggan mengakui sebagai warga negara. (Jr.)**

.

Categories:Internasional,
Tags:,