Guru Ngaji di Bandung Unjuk Rasa Pencoretan Dana Hibah

Guru Ngaji di Bandung Unjuk Rasa Pencoretan Dana Hibah

Guru honorer yang merangkap guru mengaji di Kota Bandung berunjuk rasa di depan kantor DPRD Kota Bandung, Senin (5/12/2016). (foto - ist)

Bandung - Puluhan guru honorer yang merangkap guru mengaji di Kota Bandung, unjuk rasa di depan kantor DPRD Kota Bandung, Senin (5/12/2016). Mereka memprotes karena dicoret dari daftar penerima hibah bersumber APBD.

Berawal dari pemberian Bantuan Kesejahteraan Guru oleh Kementerian Agama Kota Bandung pada pertengahan 2016, sebesar Rp 1,2 juta per guru per tahun. Karena kuota bantuan hanya untuk 4 ribu guru, bantuan itu lantas dibagi rata di antara mereka. Rata-rata per orang mendapat Rp 100 ribu hingga Rp 200 ribu.

Banyak guru mengaji yang menerima bantuan dari Kemenag Kota Bandung itu juga tercatat sebagai guru honorer. Mereka berhak masuk dalam program bantuan hibah Pemkot Bandung, yang bakal dicairkan pada pekan ini. Namun, PGRI sebagai lembaga penyalur dana hibah mengkhawatirkan adanya penerimaan ganda. Para guru mengaji yang juga honorer dicoret dari daftar penerima.

"Ribuan guru ini bakal dikorbankan oleh kekhawatiran birokratis yang tidak memiliki dasar yang kuat. Kami menolak kebijakan PGRI mencoret mereka," kata Ketua Forum Koalisi Guru Honorer (FKGH) Kota Bandung Yayan Herdian, usai berorasi di depan Gedung DPRD.

Menurutnya, di jenjang SMK dan sederajat sudah tercatat sekitar 156 guru honorer yang tercoret sebagai penerima hibah Pemkot Bandung. Ia memperkirakan, jumlah guru di semua jenjang mencapai 2 ribuan.

Kekhawatiran PGRI mencoret guru mengaji yang merangkap guru honorer, dinilai tidak berdasar. Ia merujuk pada Perwal Nomor 891 tahun 2011 tentang Tata Cara Penganggaran, Pelaksanaan dan Penatausahaan Pertanggungjawaban dan Pelaporan serta Monitoring dan Evaluasi Belanja Hibah dan Belanja Bantuan Sosial yang Bersumber dari APBD. (Jr.)**

.

Categories:Bandung,
Tags:,