Parlemen Korsel Akhirnya Depak Presiden Park Geun-hye

Parlemen Korsel Akhirnya Depak Presiden Park Geun-hye

Sidang dengar pendapat Parlemen Korsel dalam rangka memakzulkan Presiden Park Geun-hye. (foto - AP)

Seoul - Presiden Korea Selatan (Korsel) Park Geun-hye akhirnya dilengserkan Parlemen Korsel yang secara resmi mengeluarkan keputusan untuk menggulingkan dari jabatannya. Perempuan pertama yang menjadi penguasa Negeri Ginseng itu lengser, dalam kasus penyalahgunaan kekuasaan yang berujung korupsi. 

Dilaporkan Gallup Korea, Jumat (9/12/2016) meski parlemen telah menjatuhkan keputusan pemakzulan, saat Park pun belum resmi mundur. Mahkamah Konstitusi tengah bekerja keras untuk memutuskan nasib sang presiden, juga terkait apakah ia akan rela dilengserkan atau menolak upaya itu.

Namun, efek dari pemakzulan itu Park kini sudah dibebastugaskan dalam jabatannya sebagai Presiden. Tugasnya untuk sementara dilaksanakan Perdana Menteri Hwang Kyo-ahn, yang akan menjadi pelaksanan tugas presiden hingga Mahkamah Konstitusional memberikan putusan.

Seperti diketahui pada 27 November lalu jutaan rakyat Korsel berunjukrasa di Seoul. Aksi protes terbesar dalam sejarah Negeri Ginseng itu bertujuan menuntut Presiden Park Geun-hye mundur, menyusul krisis politik yang melibatkannya dan sejumlah orang dekatnya.

Unjuk rasa di Seoul dihadiri setidaknya 1,5 juta warga. Sementara 400 ribu lainnya dilaporkan menggelar aksi serupa di sejumlah daerah. Para pengunjuk rasa yang berkumpul di Seoul diketahui berasal dari komunitas petani, biksu dan mahasiswa.

"Aku menonton televisi dan berpikir ini tak bisa dilanjutkan, rakyat benar-benar ingin dia mundur tapi belum melakukannya," kata salah seorang demonstran, Kwak Bo-youn. "Ini adalah kali kedua aku ikut demo, namun ini jadi yang pertama bagi anak-anak dan suamiku".

Park yang merupakan presiden perempuan pertama di Korsel dituduh membiarkan orang-orang terdekatnya memanfaatkan kedekatan mereka dengan dirinya, demi mendapatkan keuntungan pribadi. Salah satu orang dekatnya, yakni Choi Soon-sil, teman lama Park.

Presiden Korsel itu telah dua kali tampil di muka publik untuk melayangkan permintaan maaf. Namun, sejauh ini ia menolak seruan untuk mengundurkan diri. Sejalan dengan "larut"nya Park dalam skandal politik, popularitasnya menurun drastis. 

Dukungan terhadap putri dari eks Presiden Park Chung-hee yang memimpin Korsel pada 1961-1979 itu, hanya tersisa 4 persen, terendah dalam sejarah kepresidenan negeri itu. Konstitusi Korsel tidak memungkinkan bagi seorang presiden untuk menghadapi penuntutan. Park diketahui memiliki waktu 15 bulan, sebelum menyelesaikan masa jabatannya. (Jr.)**

.

Categories:Internasional,
Tags:,