Unjuk Sampel Makanan Para Pengusaha Kuliner

Unjuk Sampel Makanan Para Pengusaha Kuliner

Dika Prasetya, owner dari coklat kocok sedang berbagi ilmu dan pengalamannya mengenai usaha kemitraan di acara #Rapangodar yang di selenggarakan di RPTT Jalan Lombok 47, Bandung (11/11/14) (Foto: Cikalnews/Riksa))

Bandung - Rapatata merupakan sebuah komunitas pengusaha, media dan pecinta kuliner,  menggelar acara Rapangodar ke-12 dengan tema “Mengembangkan Usaha Lewat Kemitraan” di RPTT Jalan Lombok 47 Bandung, Selasa (11/11/14).
 
Acara yang dimulai pukul 18.00- 22.00 WIB ini dihadiri oleh para pengusaha kuliner baik yang sedang merintis maupun yang sedang berkembang serta para pengunjung lainnya. 
 
Dalam acara Rapangopdar, para pengusaha kuliner diberikan kesempatan untuk memperkenalkan produknya, bagaimana awal mula usahanya dirintis, bagaimana jenis-jenis produknya serta pemasarannya. Tidak hanya memperkenalkan produk lewat presentasi dan tanya jawab, namun juga pengusaha kuliner ini memberikan sampel makanan untuk dijadikan tester kepada para pengusaha kuliner lain dan pengunjung yang datang. 
 
Ketika sampel makanan tersebut dibagikan, para pengunjung di Rapangopdar diharuskan untuk memberikan saran atau kritik terhadap produk makanan tersebut melalui jejaring sosial twitter yang dimiliki oleh pengusaha kuliner tersebut.
 
    Para pengusaha kuliner ini banyak melakukan inovasi terhadap produk makanannya agar terlihat beda dan unik. Seperti produk makanan lumpia isi wafer bernama ‘Wafer Ranger’, kue kering yang dibentuk menyerupai donat bernama ‘Donat Cookies’, perpaduan antara brownies dan greek yogurt strawberry bernama ‘Broyo’ , hot dog dengan ukuran sosis hingga 40cm bernama ‘Western hot dog’ dan masih banyak lagi. 
 
Menurut salah satu pemilik usaha kuliner ‘Western hot dog’, Salman, usaha kulinernya sering ia pasarkan ke acara-acara musik festival, pameran atau Culinary Night. Ia lebih sering memanfaatkan keadaan atau moment saat acara-acara seperti itu untuk mendapatkan omset yang tinggi.
 
    Berbagi informasi mengenai usaha kemitraan pun disampaikan oleh Dika Prasetya selaku owner coklat kocok. Ia menjelaskan apa saja perbedaan antara usaha yang disebut franchise dan business oppurtunity.
 
 Menurutnya, usaha yang benar-benar menggunakan sistem franchise lebih sulit karna banyak administrasinya, belum lagi masalah sistem perizinannya dan pusat usahanya yang harus kuat. Berbeda dengan business oppurtunity yang lebih mudah dijalankan. Selain sistem administrasinya yang tidak terlalu sulit, namun usaha ini sama-sama dimulai dari bawah dan harus pintar dalam mengelola harga produk. Baik franchise maupun business oppurtunity, keduanya menyangkut nama baik perusahaan. 
 
“Kita belajar jangan mudah percaya sama orang,” begitu Dika menyampaikan saat mengisahkan pengalamannya seputar usahanya di Rapangopdar.(Ode)**
.

Categories:Kuliner,
Tags:kuliner,