Trump Akhirnya Akui Intervensi Rusia terhadap Rivalnya

Trump Akhirnya Akui Intervensi Rusia terhadap Rivalnya

Reince Priebus, sosok yang dipilih Trump untuk mengisi jabatan kepala staf Gedung Putih. (foto - ist)

Washington DC - Donald Trump akhirnya tidak menyangkal dugaan serangan siber yang dilakukan Rusia terhadap rivalnya dalam pilpres Amerika Serikat (AS), Hillary Clinton dan Partai Demokrat. Demikian disampaikan Reince Priebus, sosok yang dipilih Trump untuk mengisi jabatan kepala staf Gedung Putih.
 
Seperti dikutip dari The Guardian, Senin, (9/1/2017) "Menurut saya dia menerima hasil temuannya (data intelijen yang mengacu pada FBI, CIA dan NSA)," kata Priebus. Versi terbuka dari laporan yang menunjukkan, Presiden Rusia Vladimir Putin memerintahkan sebuah operasi demi memenangkan Trump dirilis pada Jumat. 
 
Trump sendiri sudah mendapat pengarahan satu hari sebelumnya. Meski begitu, Priebus berusaha untuk "mengurangi" ketegangan atas skandal peretasan yang dilanjutkan dengan publikasi email yang dicuri ini oleh WikiLeaks. "Semua sudah dimulai dari Rusia sejak 50 tahun lalu, dengan kata lain ini sesuatu yang telah terjadi di pemilu kita selama bertahun-tahun. Ini terjadi dalam setiap periode pemilu," kata Priebus.
 
Presiden Putin telah membantah terlibat dalam peretasan. Sementara penegasan belum keluar langsung dari mulut Trump apakah ia menerima atau menolak laporan intelijen, yang menyimpulkan peran Putin untuk melemahkan legitimasi pemilu dan membantu kampanye Partai Republik.
 
Ketika kampanye, Trump terkadang bertentangan atau bahkan menolak pernyataan yang dibuat oleh penasihatnya. Sejak terpilih hingga saat ini, Trump belum sekali pun mengadakan konferensi pers untuk menjawab berbagai isu dan menjelaskan arah kebijakan pemerintahannya kelak.
 
Sementara itu, para pejabat intelijen dikabarkan memberikan Trump pengarahan pada Jumat lalu. Selang dua hari, juru bicara Trump, Kellyanne Conway mengatakan kepada CNN, presiden terpilih AS itu percaya "Rusia, Cina dan sejumlah pihak lain telah berusaha untuk menyerang institusi pemerintahan, bisnis dan individual serta organisasi beberapa kali".
 
"Namun kita tidak membutuhkan WikiLeaks untuk meyakinkan rakyat Amerika, mereka tidak menyukainya (Hillary), tidak memercayainya dan menemukan bahwa dia tidak jujur. Dia yang memulainya," kata Conway. Priebus bahkan berpendapat, Partai Demokratlah yang "mengizinkan" para peretas mencuri email mereka. 
 
Namun beberapa senator dari Partai Republik antara lain John McCain dan Lindsey Graham menegaskan, aksi peretasan merupakan preseden berbahaya bagi legitimasi pemilu di masa depan. Keduanya menyerukan agar AS lebih banyak memberi bantuan ke Ukraina, dalam menghadapi Rusia selain tentunya menjatuhkan sanksi baru ke Negeri Beruang Merah.
 
"Kita semua, baik Republikan maupun kaum Demokrat harus mengecam Rusia atas apa yang mereka lakukan. Dan sebagian Republikan mengutuk apa yang dilakukan Rusia, sementara bagi orang-orang yang bergembira dengan itu maka Anda adalah peretas politik, Anda bukan Republikan, Anda bukan seorang pahlawan," kata Graham.
 
Ia berharap, Trump akan membalas dugaan tindakan peretasan oleh Rusia sehingga dapat mencegah hal serupa terulang kembali. Di lain sisi, McCain mengatakan akan menyelidiki persoalan tersebut dengan rekan-rekannya di Kongres, tak peduli bahkan meski ia harus ditentang Senat atau Gedung Putih. (Jr.)**
.

Categories:Internasional,
Tags:,

terkait

    Tidak ada artikel terkait