Unjuk Rasa Anti-Donald Trump Digelar di Lebih 60 Negara

Unjuk Rasa Anti-Donald Trump Digelar di Lebih 60 Negara

Aksi Women's March di Chicago merupakan aksi protes yang menolak Trump karena kebencian dan rasisme yang selama ini sering dilayangkannya. (foto - AP)

Washington DC - Donald trump yang kini telah resmi menjadi presiden ke-45 Amerika Serikat (AS), kerap digambarkan sebagai tokoh pemecah belah. Hal itu dipicu oleh berbagai pernyataan kontroversialnya. Pelantikan Trump yang digelar pada 20 Januari waktu setempat pun membuat ratusan ribu perempuan bersatu menggelar demonstrasi damai. 

Dikutip dari BBC, Minggu (22/1/2017) tak hanya di Washington, aksi protes juga berlangsung di sejumlah kota besar di AS, bahkan di berbagai belahan dunia. Para pengunjuk rasa mengusung spanduk bertuliskan, "terima kasih sudah membuat saya menjadi aktivis, Trump" hingga "kami tidak akan diam". 

Simbol harapan juga salah satu yang paling menonjol dalam gerakan para perempuan ini. "Ini tentang solidaritas dan memvisualisasikan perlawanan. Menurutku, ini tidak hanya membantu proses penyembuhan, tetapi juga memberikanku harapan untuk empat tahun ke depan," kata Jonathon Meier, yang datang dari New York ke Washington.

Lautan aktivis, beberapa mengenakan baju atau topi rajutan berwarna pink dan beberapa lainnya berpakaian dengan warna senada bendera AS, tumpah ruah di kawasan National Mall. Sebagian memilih berhenti sejenak untuk mendengarkan orasi dan bernyanyi lagu-lagu seperti "This Little Light of Mine".

Aksi protes juga dibumbui dengan simbol alat kelamin wanita. Mereka yang mengusungnya bermaksud untuk menyuarakan kekhawatiran atas hilangnya akses ke kontrol kelahiran dan perawatan aborsi di bawah pemerintahan Trump. Jellema Stewart mengatakan, ia berpartisipasi demi sang nenek yang meninggal dunia pada usia 38 tahun saat melakukan aborsi ilegal pada 1950-an.

"Aku di sini demi memastikan suaranya didengar. Aku telah ikut aksi protes tentang hak-hak reproduksi sejak tahun 2014 dan saat ini kami berjuang untuk hal yang sama," kata Stewart. Ia mendapat energi dari demonstrasi para perempuan ini dan bersikeras akan menyampaikan pesan yang diusungnya itu ke presiden baru.

"Dia (Trump) memperdengarkan rasialismenya. Jadi, kita harus lebih keras dari rasialisme dan diskriminasi yang keluar sebagai hasil pemilu dan menunjukkan kepada dia bahwa kita menunggu dan kita akan menyimak," tegasnya.

Demonstrasi damai menyambut kehadiran Trump di Gedung Putih juga digelar di lebih dari 60 negara. Antara lain di Inggris, Kanada, Australia, Jepang, Jerman, Swedia serta sejumlah kota besar di AS termasuk di antaranya, New York, Chicago, Denver dan Los Angeles.

Bagi seorang demonstran, Chrystian Woods, demonstrasi besar-besaran ini mengisyaratkan satu hal: AS tidak ditentukan oleh siapa penghuni di Gedung Putih. "Ini bukan persoalan menjadi anti-Trump. Namun membiarkan dunia tahu bahwa Amerika lebih dari itu. Amerika adalah cinta, inklusivitas, persatuan dan Amerika menerima orang-orang yang datang dari latar belakang berbeda," katanya.

Seorang pengunjuk rasa lainnya, Amy Briggs, mengatakan, "Aku percaya negara ini hadir untuk kita semua." Selama beberapa dekade terakhir, National Mall di Washington telah menjadi "rumah" bagi sejumlah peristiwa penting. Mulai dari orasi Martin Luther King lewat "Dream Speech" pada 1963, demonstrasi damai para pria Afrika-Amerika yang digagas oleh Louis Farrakhan, hingga perayaan pelantikan Barack Obama pada periode kedua yang digelar tahun 2009.

"Kami berbaris hari ini untuk moral bangsa ini, atas hal-hal yang diperangi oleh presiden baru. Martabat, karakter, serta hak kami telah diserang dan sebuah platform kebencian dan pemecah belah baru saja dilantik. Namun ia tidak mewakili Amerika. Kami adalah rakyat Amerika," ungkap artis AS, America Ferrera(Jr.)**

.

Categories:Internasional,
Tags:,