Demo Pelecehan Seksual Massal Digelar di 30 Kota India

Demo Pelecehan Seksual Massal Digelar di 30 Kota India

Demo pelecehan seksual massal serempak digelar di 30 kota di India. (foto - ist)

Bangalore - Ratusan perempuan di 30 kota di India serempak berkumpul, guna menggelar demo menuntut keamanan di tempat publik, setelah adanya laporan pelecehan seksual massal di Malam Tahun Baru di Bangalore.
 
Aksi yang disebut "menduduki jalanan di malam hari" itu berlangsung pada 21 Januari 2017 waktu setempat.  Para aktivis, pelajar dan para profesional berkumpul di jalanan. Mereka berunjuk rasa dengan bermain drama, menyanyikan lagu, dan membaca puisi soal kesetaraan perempuan.
 
Seperti dikutip dari Asia One, Minggu (22/1/2017) pengunjuk rasa yang juga diikuti banyak pria itu meneriakkan sejumlah yel-yel, seperti "Kebebasan, Kebebasan, Kebebasan!" dan memegang spanduk bertuliskan "Ambil kembali malam. Pecahkan keheningan. Akhiri kekerasan".
 
"Sejak berusia 12 tahun, aku tak pernah merasa nyaman atau aman di jalan, baik siang maupun malam. Namun pertama kali aku menghadiri unjuk rasa seperti ini," kata Anuradha Sinha (37 tahun), seorang programme manager di sebuah perusahaan e-commerce.
 
Aksi itu dilakukan setelah adanya laporan pelecehan seksual massal pada 31 Desember di Bangalore. Saat itu sejumlah perempuan diraba-raba sekelompok pria. Kejahatan seksual bukan merupakan hal yang mengejutkan di India. 
 
Berdasarkan laporan National Crime Record Bureau, lebih dari 34.000 pemerkosaan telah terjadi pada 2015. Pemerkosaan berujung kematian seorang perempuan yang sempat menggegerkan dunia pada Desember 2012, yang memicu kemarahan global dan seruan dilakukannya perlindungan yang lebih besar bagi perempuan di seluruh India.
 
Sementara itu, pemerintah telah memberlakukan undang-undang yang lebih keras dalam kekerasan seksual, para aktivis mengatakan sebenarnya ada hal lebih yang bisa dilakukan.
 
Setidaknya 30 kota di India termasuk Hyderabad, Jaipur, Ahmedabad, Puducherry, Lucknow, Pune, Jammu, Dharamsala dan Bhopal menggelar aksi tersebut. Di masing-masing kota, terdapat ratusan peserta yang tergabung dalam unjuk rasa tersebut.
 
Di Bangalore, di mana sekitar 300 orang menghadiri aksi, pihak pengorganisir mengatakan sebagian besar perempuan pernah mengalami pelecehan seksua. Misalnya, dicolek, diraba, dianiaya, atau mendapat komentar cabul di depan umum. 
 
"Saya memiliki banyak cerita soal ketidaknyamanan berada di ruang publik," kata Divya Titus, salah seorang penyelenggara pawai di Bangalore. "Meski sudah terdapat undang-undang, kita masih melihat pelecehan seskual. Kita harus menghentikan pemakluman atas peristiwa ini," katanya. (Jr.)**
.

Categories:Internasional,
Tags:,