Jasa Pengiriman Bakal Naik 10 Persen

Jasa Pengiriman Bakal Naik 10 Persen

Jasa Pengiriman Bakal Naik 10 Persen

Jakarta - Asosiasi Perusahaan Jasa Pengiriman Ekspres, Pos dan Logistik Indonesia (Asperindo) menyatakan bahwa rencana pemerintah untuk menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi akan berdampak pada naiknya tarif jasa pengiriman kurang lebih 10 persen.
 
"Estimasi kenaikan BBM kurang lebih sebesar 30-40 persen, itu akan berdampak pada kenaikan harga jual kami kurang lebih sebesar 10-15 persen," kata Wakil Ketua Umum Asperindo, Budi Paryanto, seusai diskusi Menyingkap Potensi Logistik di Indonesia, di Jakarta, Kamis (13/11/2014).
 
Budi mengatakan, sesungguhnya kenaikan BBM tersebut merupakan hal yang positif, namun berdampak negatif terhadap para pelanggan jasa pengiriman karena harus menanggung kenaikan harga BBM tersebut.
 
"Namun yang negatif adalah beban itu harus ditanggung oleh konsumen, bukan pelaku. Nantinya akan ditambahkan ke )biaya,red)cost komponen saja," kata Budi.
 
Sementara itu, Managing Director JNE, Johari Zein, menyatakan bahwa apabila pemerintah menaikkan harga BBM akan berdampak pada kenaikan harga diatas 10 persen, kendati komponen BBM tersebut bukan yang paling utama.
 
"Yang paling utama adalah dampak terhadap biaya hidup, apabila BBM naik maka biaya hidup akan naik dan kita harus menyesuaikan upah minimumnya," ujar Johari.
 
Johari menjelaskan bahwa jika pada awal tahun 2015 Upah Minimum Provinsi (UMP) mengalami kenaikan maka akan memberikan dampak yang cukup besar karena industri pengiriman merupakan usaha padat karya yang memiliki kurang lebih 11 ribu karyawan.
 
Sebelumnya, pemerintah memastikan akan menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi pada November 2014, meski belum dipastikan berapa besaran harga yang akan ditetapkan oleh pemerintah nantinya.
 
"Bulan ini (November), selama ini kita sudah sosialisasi, tunggu saja," kata Menteri Koordinator bidang Perekonomian, Sofyan Djalil, seusai melakukan pertemuan dengan anggota Kamar Dagang dan Investasi (Kadin) Indonesia, di Jakarta, Rabu (5/11).
 
Sofyan mengatakan, perhatian pemerintah sama seperti dunia usaha, dimana subsidi BBM yang tidak tepat sasaran tersebut nantinya akan dialokasikan untuk kebutuhan yang lebih produktif dan lebih baik.
 
"Perhatian kita sama seperti dunia usaha, subsidi tidak mencapai sasaran. Kita akan memperbaiki ke arah yang lebih produktif," kata Sofyan. (AY)
.

Categories:Ekonomi,
Tags:nasional,