Terima Suap Ketigakali, Patrialis Akbar Resmi Ditahan KPK

Terima Suap Ketigakali, Patrialis Akbar Resmi Ditahan KPK

Patrialis Akbar berjalan menuju mobil tahanan setelah menjalani pemeriksaan di Gedung KPK. (foto - ist)

Jakarta - Hakim Mahkamah Konstitusi (MK) Patrialis Akbar resmi ditahan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Setelah menjalani pemeriksaan intensif di gedung KPK, Patrialis keluar dengan mengenakan baju (rompi) tahanan, Jumat (27/1/2017) dinihari.

Penyidik KPK telah menetapkan Patrialis Akbar sebagai tersangka penerima suap. Hakim konstitusi itu ternyata sebelumnya telah menerima uang haram. "Sebesar 20 ribu dlar AS, bahkan sudah yang ketiga. jadi sudah ada pertama, kedua dan ketiga," kata Wakil Ketua KPK Basaria Panjaitan.

Dalam operasi tangkap tangan, KPK menyita uang 20 ribu dolar AS dan 200 ribu dolar Singapura. Namun Basaria tidak mengungkap berapa commitment fee yang diterima Patrialis.

Patrialis telah resmi ditetapkan sebagai tersangka terkait dengan permohonan uji materi Undang-Undang Peternakan dan Kesehatan Hewan. Ia menerima suap dari pengusaha bernama Basuki Hariman, yang disampaikan lewat seorang perantara yang juga pengusaha bernama Kamaludin.

KPK pun menetapkan Patrialis Akbar dan Kamaludin sebagai penerima suap. Kemudian KPK menetapkan Basuki dan sekretarisnya, Ng Feni sebagai pemberi suap.

Ketika ditanya, Patrialis Akbar mengklaim tidak pernah menerima uang suap dari seorang pengusaha, Basuki Hariman ,yang berkaitan dengan skandal pemulusan judicial review atau uji materil UU peternakan dan kesehatan. Namun, ia pun sempat gelagapan harus menjawab apa seusai dicecar pertanyaan, terkait uang suap yang digunakan untuk umroh.

‎"Nggak begitu, pokoknya enggak ada. Saya tidak pernah menerima uang dari pak Basuki," katanya. Ia pun tetap konsisten dengan jawabannya, tidak pernah menerima suap dalam bentuk apapun, termasuk voucher pembelian uang asing dari pengusaha impor daging, Basuki Hariman.

Demikian juga uang panas melalui seorang perantara yang diduga sebagai kaki tangannya. "Tidak ada (uang dari Kamaludin), tidak ada yang namanya pak Basuki kasih uang‎.‎ Tidak ada (voucher pembelian uang asing)," tukasnya.

Selain mengamankan empat tersangka, tim Satgas KPK juga berhasil menyita beberapa alat bukti hasil dari operasi tangkap tangan (OTT), pada Rabu 25 Januari 2017 di tiga lokasi berbeda di kawasan Jakarta. Barang bukti itu, yakni dokumen pembukuan perusahaan milik Basuki Hariman, voucher pembelian mata uang asing dan draft putusan perkara nomor 129. (Jr.)**

.

Categories:Nasional,
Tags:,