Karyawan Google Seluruh AS Mogok Massal Kecam Trump

Karyawan Google Seluruh AS Mogok Massal Kecam Trump

Karyawan Google di Seluruh AS melakukan mogok massal protes kebijakan anti-imigran Donald Trump. (foto - Verge)

California - Para karyawan Google di seluruh Amerika Serikat (AS) melakukan mogok kerja secara massal, Senin waktu setempat. Mereka mengecam terhadap kebijakan anti-imigran Presiden Donald Trump, yang juga diikuti oleh pimpinan dan pendiri Google.
 
Seperti dilaporkan TechCrunch, Selasa (31/1/2017) ada sekitar 2.000 Googler (julukan karyawan di Google) melakukan demonstrasi di sejumlah "kampus" Google. CEO Google Sundar Pichai dan salah satu pendirinya Sergey Brin pun,  berada di antara kerumunan untuk ikut menyuarakan perlawanan.
 
Brin dan Pichai didaulat sebagai pembicara dalam aksi protes yang berlangsung di markas Google di Mountain View, California itu. Keduanya bersama para Googler saling berbagi pengalaman dan opini mereka, seputar kebijakan anti-imigran Trump. "Ini perdebatan tentang nilai-nilai fundamental," katanya.
 
Salah satu kisah mengenai isu imigran tersebut datang dari seorang imigran keturunan Iran-Kanada, Soufi Esmaeilzadeh yang bekerja untuk Google sebagai Google Assistant Product Manager. Ketika kebijakan itu mulai berlaku, Esmaeilzadeh baru sampai di Zurich Swiss. 
 
Ia pun tak tahu harus berbuat apa, lalu ia mengontak Google dan akhirnya kembali pulang ke AS setelah menyiasati status hukum kebijakan itu. Sergey Brin sendiri adalah seorang imigran dari Uni Soviet. Ia ke AS saat berumur enam tahun dari negara yang menjadi musuh utama Amerika di era Perang Dingin. 
 
Menurut Brin, meski itu Uni Soviet adalah musuh negara terbesar, AS tetap berani mengambil risiko menerima saya dan keluarga sebagai pengungsi. Sementara Sundar Pichai terus mendorong karyawannya melakukan demonstrasi dengan terus bersuara sebagai bentuk perjuangan.
 
Protes Googler tersebut berlangsung dengan inisiasi dari mereka sendiri. Namun Google sebagai perusahaan turut mendukung langkah karyawan mereka. Sebab, Google pun telah terang-terangan menolak kebijakan anti-imigran Donald Trump tersebut.
 
Tak hanya di markas pusat Google di Mountain View, namun demonstrasi juga terjadi di San Francisco, New York dan Seattle. Di Silicon Valley, Google tak sendirian. Banyak perusahaan teknologi lain yang menentang keputusan Trump melarang imigran dan pengungsi dari tujuh negara mayoritas Muslim seperti Suriah, Irak, Iran, Yaman, Sudan, Libya dan Somalia memasuki wilayah AS selama 90-120 hari ke depan.
 
Sebelumnya, para CEO dari perusahaan teknologi pun banyak yang telah mengecam kebijakan itu. Misalnya Tim Cook, CEO Apple yang 'tidak akan pernah setuju' dengan kebijakan semacam itu. Ia mengingatkan, Steve Jobs salah satu pendiri Apple pun seorang keturunan imigran Suriah. 
 
Sementara itu, CEO Microsoft Satya Nadela angkat bicara melalui akun LinkedIn miliknya, "Sebagai seorang imigran sekaligus CEO, saya berpengalaman dalam melihat dampak positif dari imigrasi pada perusahaan kami, bagi negara, dan bagi dunia".
 
Elon Musk, CEO Tesla sekaligus founder Space-X pun ikut bersuara membela para imigran, "Orang-orang yang terkena dampak negatif dari kebijakan ini justru para pendukung kuat US. Mereka melakukan hal yang benar, tidak salah apa-apa & tidak pantas ditolak". (Jr.)**
.

Categories:Internasional,
Tags:,