Puluhan Ton Ikan di Waduk Jatiluhur Mati karena 'Umbalan'

Puluhan Ton Ikan di Waduk Jatiluhur Mati karena 'Umbalan'

Puluhan ton ikan yang sebagian besar ikan mas di keramba jaring apung (KJA) di Waduk Jatiluhur Purwakarta mati mendadak. (foto - ist)

Purwakarta - Puluhan ton ikan yang sebagian besar ikan mas di keramba jaring apung (KJA) di Waduk Jatiluhur Purwakarta mati mendadak, sejak pekan lalu. Hal itu terjadi setiap tahun terutama saat curah hujan tinggi, sehingga banyak peternak merugi.
 
Sejumlah peternak KJA Waduk Jatiluhur menyatakan, fenomena tersebut biasa mereka sebut dengan istilah umbalan. Hal itu terjadi diduga terkait tingginya curah hujan, sehingga sinar matahari yang masuk ke dasar kolam berkurang. 
 
Dampaknya, air dari dasar waduk naik ke permukaan membawa endapan, yang terdiri atas lumpur dan sisa-sisa pakan. "Ada virus yang dibawa hujan ditambah lagi ada endapan lumpur dan pakan menjadi racun. Ini membuat ikan kekurangan oksigen, sehingga ikan mabuk dan mati massal," sebut sejumlah peternak.
 
Disebutkan, ikan mati hampir merata di semua zona peternakkan ikan di KJA Waduk Jatiluhur, meski tidak semua peternak mengalaminya. Hal itu lebih disebabkan sebaran virus belum merata ke seluruh waduk. Para peternak terpaksa memanen ikan lebih awal agar tidak terlalu merugi.
 
"Daripada rugi mending panen lebih awal. Namun bagi mereka yang baru menanam ikan sekitar satu bulan jelas merugi. Mereka pun merelakan ikan-ikannya mati, karena kalau dijual pun tidak ada yang mau membelinya," katanya.
 
Saat ini baru ikan mas yang banyak mati, sedangkan ikan nila yang diternakkan masih bisa bertahan. Namun jika curah hujan masih terus berlangsung, tidak menutup kemungkinan ikan nila juga terkena dampaknya.
 
Kondisi itu jelas berpengaruh pada harga jual. Ikan mas yang dipanen dipanen saat ini dijual seharga Rp 17 ribu/kg. "Padahal jika sudah masuk masa panen harganya di atas Rp 21 ribu/kg. Ukuran ikan masuk masa panen untuk 1 kg berjumlah empat ekor, sedangkan yang dijual sekarang 1 kg bisa enam sampai tujuh ekor karena belum masuk masa panen," katanya.
 
Namun demikian, para peternak ikan sebetulnya sudah memprediksi mengenai kondisi yang ada saat ini, karena terjadi setiap tahun saat curah hujan tinggi. Sejauh ini, mereka sudah mengantisipasinya, misalnya membekukan ikan dengan es balok. (Jr.)**
.

Categories:Ekonomi,
Tags:,