Gelapkan Rp 1,1 T, Bos Pandawa Group Dijerat Pasal Berlapis

Gelapkan Rp 1,1 T, Bos Pandawa Group Dijerat Pasal Berlapis

Gelapkan dana nasbah hingga Rp 1,1 triliun, bos Pandawa Group Salman Nuryanto dijerat pasal berlapis. (foto - ist)

Jakarta - Tukang bubur yang kemudian menjadi pemilik Koperasi Simpan Pinjam (KSP) Pandawa Group, Salman Nuryanto yang menjadi buronan karena melarikan duit nasabah hingga Rp 1,1 triliun, akhirnya ditangkap penyidik Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Metro Jaya.

Menurut Kapolda Metro Jaya Irjen Pol M Iriawan, Salman Nuryanto ditangkap bersama tiga rekan kerjanya, Senin dinihari. Penangkapan dilakukan di daerah Mauk Kabupaten Tangerang, dan keempatnya langsung ditetapkan sebagai tersangka.

"Nuryanto ditangkap bersama Madamine yang merupakan leader KSP Pandawa Group, bersama Taryo dan Subardi (admin di Pandawa Group)," kata Iriawan saat jumpa pers di Mapolda Metro Jaya, Senin (20/2/2017).

Iriawan menjelaskan, selain diputus sebagai buronan oleh Polres Depok, penangkapan juga didasari oleh adanya 22 laporan terhadap Salman dan tiga anak buahnya dari puluhan nasabah Pandawa Group.  

"Jumlah Laporan Polisi yang kami terima 22. Sebanyak 40 saksi yang diperiksa di antaranya beberapa saksi ahli. Itu dari Kementerian Koperasi, Kementerian Perindustrian dan Perdagangan dan OJK (Otoritas Jasa Keuangan)," katanya. Dari jumlah laporan itu, untuk sementara jumlah korban 772 orang. Namun, jumlah itu bisa bertambah hingga ribuan orang korban.

Sementara itu, Direktur Reserse Kriminal Khusus Polda Metro Jaya, Komisaris Besar Polisi Wahyu Hadiningrat menambahkan, polisi masih terus menyelidiki kasus itu. Tak menutup kemungkinan akan ada tersangka baru dari kegiatan investasi bodong ini.  "Kemungkinan berkembang pada tersangka lain. Nanti kita lihat dari hasil pemeriksaan empat orang yang kita dapat sekarang," katanya.

Dalam penangkapan Nuryanto, polisi juga menyita sejumlah barang bukti, seperti uang tunai, dokumen terkait Pandawa Group, dokumen milik Madamine, data aset KSP Pandawa Mandiri Group, benda bergerak dan tidak bergerak.

Atas perbuatannya, keempat tersangka dijerat dengan Pasal 372 KUHP, 378 KUHP, 46 Undang-undang RI no 10 tahun 1996 tentang Perbankan, Pasal 6 Undang-undang RI no 8 tahun 2010 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) dengan ancaman penjara paling lama 15 tahun dan denda paling banyak Rp200 miliar. (Jr.)**

.

Categories:Daerah,
Tags:,