Miris, Presiden Azerbaijan Angkat Istri Sendiri Jadi Wapres

Miris, Presiden Azerbaijan Angkat Istri Sendiri Jadi Wapres

Mehriban Aliyeva, istri Presiden Azerbaijan Ihlam Aliyev yang diangkat menjadi wakil presiden. (foto - lent.az)

Baku - Demokrasi di Azerbaijan, salah satu negara pecahan Uni Soviet sepertinya tak berkembang, mengingat pemerintah setempat sejak lepas dari Uni Soviet tetap mempertahankan pengekangan kebebasan. Hal itu membuat banyak warga menjadi tidak kritis. 
 
Terlepas dari kekhawatirqan mereka menghadapi ancaman penjara, atau bahkan dibunuh jika berani mengkritik pemerintah. Alhasil, sejak Uni Soviet bubar, negara yang berbatasan dengan Rusia di sebelah utara, Georgia dan Armenia di barat, serta Iran di selatan itu masih mempraktikkan sistem pemerintahan otoriter dan sistem dinasti politik. 
 
Sebagaimana dilaporkan Yahoo News, Presiden Azerbaijan Ihlam Aliyev mengangkat istrinya sendiri, Mehriban Aliyeva untuk menjalankan tugas sebagai wakil presiden pertama. Hal ini terungkap dalam dekrit yang dibuat Presiden Aliyev, Selasa 21 Februari 2017. 
 
Keberadaan dekrit itu menjadi pertanda, demokrasi mandul di negara kaya minyak itu. Dalam dekrit presiden, Aliyev tak menjabarkan secara detail tugas istrinya sebagai wapres. Dalam dekrit hanya disebutkan, wapres pertama akan mewakili presiden, saat presiden sedang bertugas ke luar negeri.
 
Presiden Aliyev sejak berkuasa tahun 2003 menggantikan ayahnya yang meninggal dunia, dia sudah menunjukkan sosok sebagai pemimpin otoriter. Tahun lalu, Aliyev secara sepihak memperpanjang masa jabatan presiden dari 5 tahun menjadi 7 tahun. Sikap otoriter sang presiden telah membuat banyak aktivis demokrasi dan HAM melakukan protes. Apalagi di negara itu tingkat pelanggaran HAM sangat tinggi.
 
Selain Azerbaijan, sejumlah negara pecahan Soviet lainnya, seperti Uzbekistan juga masih menerapkan sistem diktaktor. Tampak dari tingginya pelanggaran HAM dan juga sistem pemerintahan, yang diwariskan dari ayah ke anak dan seterusnya.
 
Contohnya, ketika Uzbekistan dipimpin Islam Karimov yang berkuasa sejak 1990 sampai meninggal dunia akibat stroke setahun lalu, kondisi negara itu tak beda jauh seperti saat masih dikuasai rezim Soviet. Ini bisa dipahami karena Karimov sendiri adalah pemimpin warisan Soviet. 
 
Di kalangan pengritiknya, Karimov adalah seorang diktaktor yang brutal yang biasa menggunakan kekerasan untuk mempertahankan kekuasaannya. Ribuan orang yang tak bersalah dipenjara dan disiksa lantaran punya pandangan berbeda dengan rezimnya.
 
Sementara di kalangan pendukungnya, sosok Karimov dipuji karena selama berkuasa hampir tiga dekade, ia bersikap sangat keras terhadap kelompok radikal. Negara-negara di Asia Tengah seperti Kazakhstan, Afganistan menganggap Karimov sebagai pelindung dari serangan kelompok ekstremis. (Jr.)**
.

Categories:Internasional,
Tags:,