Napak Tilas Ully Sigar dan Paramitha Rusady di Bandung Timur

Napak Tilas Ully Sigar dan Paramitha Rusady di Bandung Timur

duo ully sigar dan paramitha

Bandung - Masih dalam suasana semangat 17-an pada 2014 ini, suasana lapangan Kampus BSI Jl. Sulaksana Bandung (30/08/2014) sungguh berbeda. “Euleuh-euleuh aya Ully Sigar dan adiknya Paramitha Rusady. Mereka itu artis tahun 80-an. Koq ada di Bandung?,” seru Nenden (52), seorang ibu pengelola warung tepat di seberang Kampus BSI.

Rupanya, duo bintang yang merajai panggung hiburan kita pada era 1980-an, punya acara khusus di Bandung.”Kami berdua tergerak oleh tuturan cerita ayahanda. Soal semangat juang ’45, jangan sampai luntur. Kami adakan Napak Tilas Route Pejuang 1945 di Bandung Timur. Kebetulan ayah kami salah satu pelakunya,” papar Ully Sigar yang tetap kompak dan tak surut mengobarkan semangat cinta lingkungan melalui tembang balada hingga kini.

Program Napak Tilas yang digagas Ully Sigar melalui Yayasan Garuda yang diketuainya berkolaborasi dengan Emergency Respond Unit Merah Putih, Gabungan Pecinta Alam, LVRI (Legiun Veteran RI) Kota Bandung, dan Puskoveri Jabar. Pesertanya terjaring sekitar 70 orang lintas generasi yang menempuh route Kampus BSI – SDN Rancaekek 1 Dangdeur Rancaekek Kabupaten Bandung sejauh 31 km.

“Total acaranya selama 2 hari sampai Minggu (31/08/2014. Malamnya di Rancaekek ada gelar seni dan diskusi dengan banyak kalangan soal peristwa kejuangan ayah kami dan rekannya,” kata penyandang nama lahir Pradnya Pramitha Chandra Devy Rusady yang akrab disapa Mitha.

Lingkungan dan Kejuangan ‘45

Uniknya, Ully Sigar Rusady yang sejak lama terkenal “cerewet” pada pentingnya menjaga lingkungan hidup di negeri kita, pada program kali ini menyelaraskan kobaran semangat juang ’45 dengan kepedulian pada lingkungan hidup.  “Ayo-ayo semangat, jangan lupa ya selama di jalan kalau ada sampah paling tidak kita pungut atau sisihkan, atau buang ke tempatnya”, katanya dengan lantang kepada para peserta yang bergegas ikut napak tilas ini.

Program “tempelan” lain itu, Ully dan Mitha ingin menghidupkan mata air lagi di sepanjang route napak tilas ini. Ia sempat terperanjat manakala LSM CADAS (Ciri Aspirasi Dari Abdi Sanagara) di Bandung memberitahukan, di kotanya kini hanya tinggal 77 dari 400-an mata air yang aktif dengan kondisi rawan hilang. kita.

“Selama perjalanan peserta dibekali cara untuk mendata mata air. Sama seperti yang tahun lalu saya galakkan di Tangerang Selatan dan provinsi lain”, serunya disela mengibaskan Sang Saka tanda dimulai beberapa regu ber-napak tilas. Filosofi soal mata air ini, ia katakan, dulu pejuang kita begitu heroik berjuang hingga mencucurkan banyak air mata. “Kita harus menukarnya dengan perjuangan cara baru. Memelihara dan menghidupkan kembali mata air. Air adalah kehidupan ...”.

Sisi Lain Bandung Lautan Api

“Kami senang ikut kegiatan ini. Sambil jalan-jalan juga sambil meresapi perjuangan para kakek kita dahulu”, kata Mimin (16), siswa salah satu SMK swasta yang berperalatan lengkap layaknya akan berkemah ke gunung. Regu Mimin yang terdiri atas empat kawan sekolahnya, tampak bersemangat menyusuri jalan yang dilalui para pejuang kita pada 23 Maret 1946.

Menurut Ully Sigar pula yang mengenang berdasarkan paparan buku ayahandanya R.J. Rusady Wirahaditenaya (95) berjudul “Tiada Berita dari Bandung Timur”, hari itu (23/03/1945) dalam waktu 7 jam sekitar 200.000 penduduk Bandung membumihanguskan tempat berlindung – tak sudi Sekutu dan serdadu NICA Belanda memakai kota Bandung sebagai markas demi memerangi Kemerdekaan RI yang telah dicetuskan pada 17 Agustus 1945.

Napak Tilas ini, sejatinya menurut keduanya untuk mengingatkan peristiwa Bandung Lautan Api (23/03/1945) dari sisi lain. “Tak kurang heroik nilai kejuangan mereka. Dulu markasnya di Jl. Raden Dewi Sartika (Sekarang Jl. Kautamaan Istri) dibawah pimpinan mahasiswa senior STT (sekarang ITB) Simon Lumban Tobing yang masih berstatus kort verband (ikatan dinas). Selanjutnya lebur jadi Detasemen Pelopor atau Batalyon 33 Pelopor dibawah pimpinan Kol. A.H. Nasution. Peritiwa ini sering dilupakan orang. Ini yang kami tekankan kembali buat diresapi kejuangannya, termasuk oleh saya”.

“Intinya, peristiwa Bandung Lautan Api tak hanya pengungsian penduduk Bandung ke Bandung Selatan atau dari Barat dan Utara. Ada pula yang tercecer, mengungsi ke Rancaekek Bandung Timur. Banyak rekan kami yang gugur, juga warga sipil kala itu”, tambah Ketua LVRI Kota Bandung H. Soedirman yang masih tampak bersemangat sekaligus merasa terharu atas kehadiran generasi muda pada program ini.

Balada Lagu Perjuangan

Menurut Dini, salah satu aktivis yang tergabung pada Yayasan Garuda penyelenggara kegiatan ini, pada malam harinya di SDN Rancaekek 1 Dangdeur Kabupaten Bandung, peserta selain diajak berdiskusi dengan para pelaku sejarah juga dihibur musik balada perjuangan.

Salah satu penghiburnya, pemusik yang tergabung pada Rumah Balada Indonesia (RBI). Ini adalah wadah pencipta lagu-lagu balada dari seluruh provinsi di Indonesia. Paramitha Rusady, Ully Sigar Rusady, Elsa Sigar dan Kelompok Nyanian Alama (RBI Pusat Jakarta), Mukti-Mukti, Ganjar Noer (RBI Bandung), RBI Banten, RBI Tangerang, dan Guntur T. Cunong (RBI Solo), ikut menyemarakkan.

“Sempatkan hadir ya, ini pertunjukkan langka lho?” timpal Mitha yang masih tampak cantik menawan diusianya kini. Rupanya, duo bersaudara ini masih tetap kompak, malah penuh greget – menggelorakan kecintaan pada lingkungan hidup dan kobaran api perjuangan 1945. Nisbatnya, langkah mereka petut ditiru oleh pesohor lain!

.

Categories:Bandung,
Tags:,