Persaingan Lima Kandidat Pilpres Perancis Semakin Ketat

Persaingan Lima Kandidat Pilpres Perancis Semakin Ketat

Persaingan Lima Kandidat Pilpres Perancis Semakin Ketat. (foto - Deutsche Welle)

Paris - Persaingan di antara para kandidat semakin ketat, empat pekan jelang Pilpres Perancis. Pemilu 23 April mendatang, lima capres akan bertarung. Mereka berasal dari berbagai kalangan, komunis, sosialis, nasionalis dan independen.

Dilansir The Guardian, Selasa (21/3/2017) kelima capres itu yakni François Fillon, Benôit Hamon, Marine Le Pen, Emmanuel Macron and Jean-Luc Melenchon. Le Pen, Macron dan Fillon punya peluang memenangi pilpres. 

Meski demikian, pemilu sepertinya tak akan berlangsung satu putaran. Untuk putaran pertama, sejumlah hasil sigi menjagokan Le Pen, tapi masih dalam hasil  sigi wanita berusia 46 tahun itu akan kalah di putaran kedua. Jadwal pilpres putaran kedua 7 Mei 2017. 

Dalam debat televisi pertama, kelima kandidat berargumen mengenai berbagai hal. Antara lain ekonomi, poltik luar negeri dan juga masalah pendatang. Sejumlah pengamat mengatakan, masing-masing kandidat punya kelebihan dan kelemahan, sehingga sulit menentukan siapa yang teratas dalam debat itu. 

Pengamat Pierre Briançon lewat akun Twitternya mengatakan, Fillon tampil cukup bagus. Ini tak mengherankan karena dari lima kandidat yang ada, Fillon merupakan capres tersenior dan juga memiliki paling banyak pengalaman.

Macron, kandidat termuda yang sebelumnya berasal dari lingkungan partai komunis dan sosialis, tapi pada pilpres kali ini ia mencalonkan diri dari jalur independen yang dinilai masih perlu banyak belajar. Sedangkan Le Pen dari partai nasionalis, dinilai terlalu emosional saat melontarkan sejumlah argumen terkait permasalahan di Prancis. 

Dua kandidat lainnya Melenchon dan Hamon dinilai biasa saja, tetapi jika keduanya harus dibandingkan, penampilan debat Melenchon lebih baik daripada Hamon.

Sementara BBC menyebutkan, Le Pen dan Macron sempat berdebat panas soal larangan burkini yang diterapkan sejumlah pemimpin daerah di Perancis. Le Pen yang sangat mengagungkan  nilai nasionalisme itu yang menyebut, burkini adalah ancaman terhadap tradisi sekularisme Perancis. 

Namun Macron membantahnya dan menyebut, burkini tak lebih dari sekadar tata tertib berbusana di ruang publik. Musim panas lalu, burkini menjadi perdebatan. Sejumlah kawasan wisata pantai Perancis selatan melarang baju renang itu, sebelum pengadilan administratif tertinggi Perancis menyebut larangan itu melanggar kebebasan asasi.

Marine Le Pen mengatakan, Perancis harus menentang multikulturalisme, tapi Macron menuduhnya memusuhi warga muslim di negeri tersebut. (Jr.)**

.

Categories:Internasional,
Tags:,