Komunitas Reptil Bandung, Bikin Edukasi

Komunitas Reptil Bandung, Bikin Edukasi

KRB

Bandung - Binatang melata reptil dinilai sebagian orang sebagai binatang yang menakutkan, namun oleh Komunitas Reptil Bandung, penilaian itu coba dikikisnya. Dengan banyak mengadakan acara sosialisasi dan pameran reptil, komunitas ini mencoba memasyarakatkan hewan reptil menjadi hewan peliharaan.

 

Ular, kadal, biawak, iguana, bahkan buaya sekalipun di sulap menjadi jinak layaknya hewan kucing atau anjing oleh komunitas ini. Setiap mereka menggelar event atau hanya nongkrong bareng sesama pecinta reptil, mereka selalu membawa ular besar dan seekor buaya muara dengan menggendong dan membelainya dihadapan para pengunjung.

 

Berdasarkan pengakuan Ketua Komunitas Reptil Bandung, Artur, komunitas ini lahir karena adanya kesamaan hobi dan kecintaan terhadap hewan melata. Di komunitas ini anggota selalu memberikan pembinaan kepada lingkungan sekitar agar lebih menyayangi hewan terutama reptil.

 

“Kita rutin melakukan sosialisasi ke kampus, sekolah atau tempat umum seperti mal, acara di Gedung Sate, Balai Kota, Lapangan Tegallega dengan maksud memberikan edukasi kepada masyarakat bahwa memelihara hewan melata tidak sulit dan menjijikan. Mereka layak di sayang seperti hewan peliharaan lainnya”, kata Artur pada CikalNews.com di Gasebo Bandung beberapa waktu lalu.

 

Pandangan masyarakat awam kepada hewan melata seperti ular yang banyak mengandung unsur mistis mulai diluruskan oleh para komunitas reptil, dengan sering menggelar workshop seputar seluk-beluk memelihara ular.

 

“Mitos bahwa ular adalah hewan berbau gaib yang cenderung membawa pesan jelek, kita tepis dengan pandangan bahwa ular bisa membawa aura baik atau hoki baik seperti pandangan orang China terhadap hoki”, tambah Artur.

 

Masih kata Artur, hewan yang paling banyak di Komunitas Reptil Bandung masih didominasi oleh ular.

 

“Ular disini yang jadi koleksi rata-rata jenis phyton, boa, diluar ular ada yang ngoleksi biawak Ambon, kadal Afrika, buaya Papua, dan iguana Amerika”, tutur Artur.

 

Sedangkan menurut anggota komunitas Wawan, rata-rata kendala dalam pemeliharaan reptil adalah tempat dan proses memberian makan.

 

“Tempat yang nyaman bagi reptil adalah jika tempat itu di tata layaknya ekosistem asli tempat mereka tinggal di alama bebas. Contoh ular lebih senang disimpan di aquarium yang dihiasi dengan pepohonan rindang seperti layaknya di hutan belantara, sedangkan makanan yang diberikan baiknya masih hidup dan segar seperti tikus atau anak ayam”, cetus Wawan.

 

Penyakit yang umum terjadi di jenis hewan melata rata-rata masalah pencernaan, jika mereka ada gangguan di pencernaan hewan reptil umumnya pendiam dan enggan makan. Sampai saat ini anggota Komunitas Reptil Bandung ada sekitar seratus orang lebih, mereka terpecah di komunitas ular, kadal, biawak, dan iguana.

 

Komunitas ini membuka konsultasi gratis bagi masyarakat yang hendak memelihara hewan reptil. Semua penjelasan mengenai cara merawat, mengembangbiakan bisa di dapat disana. Kita cukup datang ke tempat sekretariat Komunitas Reptil Bandung di Jl. Paria No. 9, Kota Bandung.(Ode)**

.

Categories:Gaya hidup,
Tags:,