3 Tersangka Kasus Heli AW101 Rugikan Negara Rp 220 Miliar

3 Tersangka Kasus Heli AW101 Rugikan Negara Rp 220 Miliar

Helikopter AW101 yang diparkir di hanggar Skuadron Teknik 021 Lanud Halim Perdanakusumah Jakarta Timur. (foto - ant)

Jakarta - Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo menetapkan tiga tersangka, dalam kasus pembelian helikopter AgustaWestland (AW 101). Ketiga tersangka itu diduga menyalahgunakan wewenang, sehingga menimbulkan kerugian negara sekitar Rp 220 miliar.

"Penyidik POM TNI memiliki alat bukti yang cukup untuk meningkatkan status penyelidikan ke tahap penyidikan, sekaligus menetapkan tiga tersangka dari anggota militer," kata Gatot dalam konferensi pers di Gedung KPK Jakarta, Jumat (26/5/2017).

Ketiga tersangka itu, yakni Marsma TNI FA selaku pejabat pembuat komitmen (PPK) dan Letkol. Adm TNI WW selaku pemegang kas. Lalu Pembantu Letnan Dua (Pelda) SS, yang menyalurkan dana pada pihak tertentu.

Menurut Gatot, dari hasil penyelidikan POM TNI diduga terjadi penyimpangan yang dilakukan para pejabat yang ditunjuk dalam proses pengadaan. Hasil perhitungan sementara ditemukan kerugian negara sekitar Rp 220 miliar, dari total nilai proyek Rp 738 miliar.

Penyidik POM TNI telah memeriksa enam saksi dari pihak militer dan tujuh saksi dari pihak sipil. Penyidik pun telah memblokir rekening bank atas nama PT Diratama Jaya Mandiri. Perusahaan itu merupakan penyedia alat utama sistem persenjataan. Rekening bank itu berisi uang Rp 139 miliar.

Diduga, ketiga tersangka itu tidak hanya melanggar hukum yang mengakibatkan kerugian keuangan negara. Namun menyalahgunakan wewenang, insubordinasi, melakukan penipuan dan penggelapan.

Sementara itu, Kepala Staf TNI Angkatan Udara Marsekal TNI sebelumnya, Agus Supriatna pernah menyatakan, pihaknya akan membeli helikopter AW101 sebanyak enam unit untuk angkut berat dan tiga unit untuk VIP. Namun pembelian tak kunjung terlaksana.

Presiden Jokowi pun pada Desember 2015 lalu telah menolak usulan TNI Angkatan Udara terkait pengadaan helikopter itu. Menurut Jokowi, pembelian helikopter VVIP terlalu mahal di tengah kondisi ekonomi nasional yang belum sepenuhnya bangkit. 

Namun demikian, satu tahun berselang TNI AU tetap membeli satu unit Helikopter AW101 tersebut. Akibatnya, proses pembeliannya pun menjadi polemik pada saat itu. (Jr.)**

.

Categories:Nasional,
Tags:,