Pelaksanaan PPDB 2017 di Jabar Paling Kacau se-Indonesia

Pelaksanaan PPDB 2017 di Jabar Paling Kacau se-Indonesia

Para orangtua siswa geram dan melakukan pengaduan atas pelaksanaan pendaftaran PPDB online kacau, Kadisdik Jabar mengaku server mengalami gangguan. (foto - ist)

Jakarta - Berdasarkan hasil evaluasi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), proses Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) 2017 di Jawa Barat paling bermasalah se-Indonesia.

Sedikitnya ada 38 laporan resmi asal Jabar masuk ke posko pengaduan Inspektorat Kemendikbud. Jumlah ini tertinggi dibandingkan Banten (26 laporan), Jawa Timur (25), DKI Jakarta (10) dan Jambi (6).

Menurut Inspektur Jenderal Kemendikbud Daryanto, masalah terbesar di Jabar terkait penerapan mekanisme insentif, yang ditetapkan setiap sekolah dalam menentukan perekrutan calon siswa. Orangtua calon siswa mengeluh dan merasa tidak adil dengan mekanisme itu.

"Ada jarak yang dirasa merugikan beberapa pihak, pengaduan terkait jatah bangku untuk pejabat, serta server sekolah yang rusak dan tak bisa diakses," sebut Daryanto di Perpustakaan Kemendikbud Jakarta, Selasa (11/7/2017).

Total laporan yang masuk secara nasional mencapai 240 laporan. Sebanyak 117 laporan atau sekitar 48 persen berupa pengaduan seperti keluhan sistem zonasi, sedangkan 52 persen lainnya berupa saran, kritik dan permintaan informasi jadwal PPDB. "Namun PPDB di Jabar tahun ini tidak ada aduan pungutan liar," katanya.

Ia mengklaim, telah mengirim tim khusus untuk mengumpulkan informasi dan menindaklanjut laporan itu. Evaluasi dengan kepala dinas pendidikan setiap provinsi akan digelar setelah tim selesai menemukan fakta dan data di lapangan.

Sementara itu, Direktur Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Kemendikbud, Hamid Muhammad mengatakan, sistem zonasi akan terus berjalan pada tahun ajaran selanjutnya. Namun Kemendikbud berjanji akan melakukan beberapa perbaikan.

Diakui, Kemendikbud juga belum menyiapkan mekanisme lain untuk mewujudkan pendidikan yang merata. Zonasi merupakan cara terbaik untuk mengikis semangat kompetisi antarsekolah, karena diikuti dengan aturan tegas soal jumlah per kelas dan PPDB dilakukan secara daring. (Jr.)**

.

Categories:Pendidikan,
Tags:,