5 Mahasiswa Indonesia Raih Penghargaan di Den Haag

5 Mahasiswa Indonesia Raih Penghargaan di Den Haag

Lima mahasiswa Indonesia meraih penghargaan "Teimun 2017" sebagai Best Delegete dalam "The European International Model of United Nations 2017" di Den Haag Belanda. (foto - PPI)

Den Haag - Lima mahasiswa Indonesia meraih penghargaan Teimun 2017, yakni sebagai Best Delegete dalam acara "The European International Model of United Nations 2017" yang diadakan di Den Haag Belanda.

"Persiapan matang, penguasaan materi dan percaya diri membawa kelima mahasiswa Universitas Indonesia (UI) mendapatkan penghargaan Teimun 2017, sebagai Best Delegate," sebut Atase Pendidikan KBRI Den Haag Bambang Hari Wibisono, Kamis (20/7/2017).

Teimun, salah satu Model United Nations (MUN) tertua di Eropa untuk mahasiswa di berbagai belahan dunia. Mahasiswa dapat belajar mengenai organisasi internasional, seperti PBB dan NATO, serta memperoleh gambaran mengenai pola kerja dan proses pengambilan keputusan melalui simulasi PBB.

Ajang itu diikuti ratusan mahasiswa dari puluhan negara sejak 1987, dan untuk tahun ini tidak kurang dari 300-an mahasiswa dari 70 negara berpartisipasi, termasuk dari Indonesia. Tiga kategori yang dilombakan di Teimun 2017, best delegate, most outstanding delegate dan honorable mention.

Lomba terbagi dalam tujuh dewan (councils), Historic Crisis Council, Human Rights Council, Security Council, General Assembly Council, North Atlantic Council, European Council dan International Court of Justice".

Penerima penghargaan dari Indonesia, yakni Joviana Huenza FHUI (angkatan 2016), Juan Octavian Sidauruk FTUI (2013), Dominique Virgil Tuapetel FHUI (2015), Zahrana Nadifa Ramadhanty FISIP (2015) dan Fatih Angling Darmo FEB (2016).

Sementara Joviana Henza dan Juan Octavian mendapat penghargaan Best Delegate of Security Council, dengan topik South Sudan Civil War & Yaman Civil War. Dominique Tuapetel di Human Rights Council mengambil topik Statelessness and Harmful Traditional Practice against Women.

Menurut Joviana, berpartisipasi di Teimun 2017 selain memberi pengalaman berkompetisi di tingkat internasional, juga menjalin jaringan. Latihan intensif selama sembilan bulan membuahkan hasil. "Di acara ini kami belajar bagaimana membuat resolusi, pidato dan melakukan negosiasi," katanya seperti dilansir Antara.

Sementara itu, Dominique Virgil Tuapetel mengakui berdiskusi dengan orang dari luar negeri yang pintar dan kritis, sehingga setiap pendapat dan argumen harus sesuai dengan logic base yang kuat. "Kompetisi yang tidak hanya menantang tapi juga menyenangkan. dan menjadi tempat untuk mengembangkan," katanya. (Jr.)** 

.

Categories:Pendidikan,
Tags:,