Wajah Bumi Bakal Berubah Setelah Es di Dua Kutub Meleleh

Wajah Bumi Bakal Berubah Setelah Es di Dua Kutub Meleleh

Sejumlah kota dan pulau di Bumi tenggelam saat es dunia mencair. (foto - National Geographic)

New York - Fenomena pemanasan global akan benar-benar menjadi ancaman terhadap kehidupan di Bumi, jika manusia terus-menerus menggunakan bahan bakar fosil dan tak mengurangi emisi karbon. Es abadi di puncak gunung dua kutub diperkirakan meleleh.
 
Apabila hal itu terjadi, tinggi permukaan laut secara global akan meningkat sekitar 216 kaki atau 65 meter. Kota-kota di tepi samudwra seperti Miami, Buenos Aires dan Kairo diperkirakan akan lenyap.
 
Seperti dikutip dari The Independent, Business Insider membuat peta animasi yang menunjukkan seperti apa dunia jika hal mengerikan itu benar-benar terjadi. Akankah kiamat menjelang bagi umat manusia? Tak lama setelah Abad ke-21 berakhir, ilmuwan iklim mengatakan, bagian Bumi akan menjadi tidak ramah.
 
Risiko yang diakibatkan oleh perubahan iklim meliputi kelaparan massal, kekeringan, banjir parah, wabah penyakit, racun di lautan dan gelombang panas. Seperti yang disebutkan David Wallace-Wells dalam esainya di New York Magazine baru-baru ini.
 
Menurutnya, para periset memprediksi bahwa jenis bencana akibat perubahan iklim akan memicu perang dan keruntuhan ekonomi permanen. Melelehnya lapisan es dan gletser yang semakin cepat niscaya meningkatkan permukaan air laut dan mengubah garis pantai dunia.
 
Miami bersama dengan seluruh pesisir timur, dipastikan berada di bawah air jika semua es dunia meleleh. Eropa akan kehilangan London, Venesia dan Belanda, yang daratannya berada di bawah permukaan laut. Air akan menelan seluruh seluruh Bangladesh yang kini ditinggali oleh 160 juta penduduk serta Kolkata, kota di India yang berpopulasi 4,6 juta orang.
 
Sementara itu, limpasan air dari Delta Sungai Mekong akan menenggelamkan Pegunungan Kardamom di Kamboja. Puncaknya yang tertinggal menjelma jadi pulau. Australia akan kehilangan banyak jalur pantai, di mana sekitar 80 persen penduduknya tinggal.
 
Sementara itu, kota metropolis Shanghai di Cina akan tinggal nama karena tenggelam di dasar Laut Cina Timur. Di Amerika Selatan, sungai Amazon dan Paraguay akan menghilang. Akibatnya Buenos Aires dan sebagian besar Kota Paraguay rusak parah.
 
Dibandingkan dengan benua lainnya, Afrika akan kehilangan sebagian besar wilayahnya. Apalagi ditambah dengan gelombang panas yang tinggi membuat sebagian besar kawasan itu tak bisa ditinggali makhluk hidup. Ada lebih dari lima juta mil kubik es di Bumi.
 
Untuk itu, diperlukan lebih dari 5.000 tahun untuk melelehkan semuanya, demikian menurut beberapa ilmuwan. Namun di pada generasi selanjutnya, beberapa kota mungkin tidak ada lagi jika negara-negara tak mengurangi emisi karbon secara substansial. (Jr.)**
.

Categories:Infotech,
Tags:,

terkait

    Tidak ada artikel terkait