Kenaikan BBM Komitmen Pemerintah Perbaiki Defisit

Kenaikan BBM Komitmen Pemerintah Perbaiki Defisit

ilustrasi

Jakarta - Pengamat pasar modal William Suryawijaya menilai bahwa realisasi kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi merupakan salah satu komitmen pemerintah untuk memperbaiki defisit neraca perdagangan dan neraca transaksi berjalan Indonesia.

"Kebijakan pemerintah untuk menaikan BBM menunjukan kerja yang sesungguhnya yang wajib kita yakini untuk Indonesia yang lebih baik ke depan," ujar William Suryawijaya yang juga Analis Riset dari Asjaya Indosurya Securities di Jakarta, Senin malam (17/11/2014).

Ia menambahkan bahwa dinaikannya harga BBM subsidi juga merupakan salah satu langkah pemerintah Joko Widodo-Jusuf Kalla beserta kabinetnya dalam membenahi APBN agar ruang fiskal menjadi lebih lebar, diharapkan dapat mendorong pembangunan infrastruktur Indonesia lebih baik.

Dengan kondisi itu, lanjut William, diperkirakan arus dana asing yang masuk ke Indonesia akan marak yang dampaknya akan positif ke pasar saham di dalam negeri.

"Investor akan melihat dari sisi positif kenaikan BBM, artinya pemerintah sungguh-sungguh akan membenahi subsidi agar tepat sasaran, belanja subsidi yang selama ini bersifat konsumtif akan dialihkan ke sektor yang lebih produktif," katanya.

Kepala Riset Woori Korindo Securities Indonesia Reza Priyambada menambahkan bahwa pasca kenaikan BBM subsidi, pasar saham domestik diperkirakan terjadi fluktuasi yang cukup besar.

"Akan terjadi adu kekuatan antara investor yang setuju dengan kebijakan knaikan BBM dan yang tidak setuju. Investor disarankan tetap memperhatikan ritme dan arah pasar. IHSG masih didominasi asing yang mayoritas hampir setuju harga BBM bersubsidi dinaikkan," paparnya.

Ia memproyeksikan kenaikan harga BBM bersubsidi itu akan terlihat dampaknya pada inflasi November dan Desember tahun ini, diperkirakan menyumbang inflasi sekitar 2,65 persen.

"Tetapi, itu pun hanya sementara dengan asumsi, Pemerintah dapat menjaga pasokan barang dan bahan makanan, serta pengalihan dana BBM dimaksimalkan ke beberapa sektor produktif diantaranya infrastruktur, kesehatan, konstruksi, pendidikan dan lainnya," paparnya.

Pemerintah resmi menaikan harga BBM subsidi sebesar Rp2.000 per liter, sehingga BBM jenis premium naik dari Rp6.500 per liter menjadi Rp8.500 per liter. Sementara jenis solar dari Rp5.500 per liter menjadi Rp7.500 per liter, yang berlaku sejak Selasa (18/11) pukul 00.00 WIB.

.

Categories:Ekonomi,
Tags:bbm,ekonomi,