BNPB Siapkan Skenario Terburuk Banjir Jakarta

BNPB Siapkan Skenario Terburuk Banjir Jakarta

Langit mendung di atas Kota Jakarta, Senin (17/11). Meskipun Pemprov DKI telah melakukan antisipasi banjir dengan normalisasi sungai dan waduk, serta pemasangan pompa dan pembuatan sumur resapan, namun masih terdapat 600 RW di Jakarta yang masih berpotens

Jakarta - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyiapkan skenario terburuk banjir yang diperkirakan terjadi antara penghujung tahun 2014 dan permulaan tahun 2015.
 
"Skenarionya harus paling buruk karena kita tidak akan tahu seperti apa banjir nantinya. Salah satu yang bisa dijadikan rujukan terburuk itu banjir Jakarta tahun 2007," kata Deputi Penanganan Darurat BNPB Tri Budiarto di kantornya, Jakarta, Selasa (18/11/2014).
 
Dia mengatakan skenario terburuk itu diantisipasi dengan berbagai upaya penanggulangan bencana banjir yang sering datang di pergantian tahun atau saat curah hujan tergolong tinggi.
 
"Perencanaan penanganan banjir terburuk itu adalah rencana A, rencana B tergolong sedang-sedang saja dan C adalah enteng," kata dia.
 
Menurut dia, dengan skenario terburuk maka akan memicu BNPB, instansi terkait dan masyarakat lebih siap dalam menanggulangi banjir yang diprediksi segera melanda banyak kota di Indonesia, terutama di DKI Jakarta.
 
"Apabila skenario terburuk sudah disiapkan tentu bencana banjir yang sedang atau ringan akan mudah ditangani. Sebaliknya, jika kita pakai skenario biasa malah bisa-bisa kita tidak bisa menangani banjir yang besar," katanya.
 
Perencanaan kontigensi terburuk, kata dia, akan membuat semua pihak sadar dan berupaya sepenuh kekuatan untuk mempersiapkan diri dalam menanggulangi banjir. Kontigensi sendiri merupakan istilah tentang keadaan yang masih diliputi ketidakpastian mengenai kemungkinan terjadi atau tidak terjadinya satu atau lebih peristiwa pada masa yang akan datang.
 
"Skenario terburuk yang tertuang dalam 'kontigensi plan' seperti ini akan membuat semua menjadi bersungguh-sunggu untuk persiapan. Kalau Tuhan tidak memberi banjir itu justru kita bersyukur. Intinya, kita semua siap siaga jangan sampai salah dan terlambat dalam mengantisipasi banjir," kata dia.
 
Berdasarkan perkiraan BNPB, banjir di sejumlah daerah akan mulai terjadi seiring meningkatnya curah hujan di berbagai tempat di Indonesia pada pekan ketiga bulan November 2014. Sementara itu, puncak dari berbagai akibat banjir itu akan terjadi pada awal pekan ketiga bulan Januari 2014.
 
Dari skenario terburuk yang dimaksud itu seperti di Jakarta dengan banjir yang mengancam 37 kecamatan, 125 kelurahan dan 634 RW. Sementara itu, jumlah penduduk yang terdampak diperkirakan mencapai 276.999 jiwa.
 
Terdapat setidaknya 20 orang yang terancam nyawanya, jumlah penduduk sakit 19.304 Jiwa, mengungsi 122.417 jiwa.
 
"Ketinggian muka air di pos pemantauan Katulampa dan Depok (untuk sungai Ciliwung) serta pintu air yang masuk ke Jakarta mencapai siaga I, pos pantau ketinggian air di pintu air beberapa hulu sungai lainnya Angke, Pesanggrahan, Krukut, Cipinang, Sunter Hulu juga diasumsikan mengalami peningkatan tinggi muka air status siaga II," kata dia.
 
Hal itu belum ditambah adanya kemungkinan tinggi muka air laut di pos Pasar Ikan mencapai 200-250 cm (siaga II), curah hujan 100-200 mm per hari di DKI Jakarta.
 
Maka dari itu, Tri mengatakan BNPB dan instansi terkait telah membuat ancang-ancang penanganan bencana dalam kategori Siaga Darurat dan Tanggap Darurat. (AY)
.

Categories:Nasional,
Tags:bencana,