Iwan Budianto Diperiksa KPK Terkait Korupsi Walikota Batu

Iwan Budianto Diperiksa KPK Terkait Korupsi Walikota Batu

Kepala Staf Ketua Umum PSSI Iwan Budianto. (foto - dung)

Jakarta - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) memeriksa Kepala Staf Ketua Umum PSSI Iwan Budianto, terkait kasus suap yang dilakukan Walikota Batu nonaktif Eddy Rumpoko. Iwan mengaku mengenal Eddy sejak tahun 1997.

"Sebelum jadi walikota beliau kan pengusaha. Tahun 1997 atau 1998 saya sudah mengenal dia. Sebelum menjadi kepala daerah beliau sudah menjadi pengusaha properti cukup besar," sebut Iwan, usia diperiksa sebagai saksi di KPK Jalan Kuningan Persada Jakarta Selatan, Rabu (11/10/2017).

Menurut Iwan, kedekatan dengan Eddy sebatas di dunia bisnis, ia pun mengaku membeli properti dari Eddy. Namun bukan kerja sama sebagai rekan bisnis. Dalam pemeriksaan, Iwan yang dipanggil dalam kapasitas sebagai Direktur Utama Hotel Ijen Suites menyebut hanya ditanyai dengan delapan pertanyaan oleh penyidik.

Termasuk juga soal kepemilikan mobil Alphard Eddy Rumpoko yang terkait perkara itu. "Pokoknya pemeriksaan hari ini seputar yang ringan-ringan saja. Apakah mengenal Pak Eddy, iya tentu kenal. Apakah Alphard itu dibeli dengan menggunakan atas nama ini, ya kita tidak tahu. Kita nggak pernah diminar izin atau apa," kata CEO Arema FC itu.

Sementara itu, juru bicara KPK Febri Diansyah memberikan konfirmasi pemeriksaan terhadap Iwan. Ada rangkaian peristiwa terkait penerimaan suap oleh Eddy yang didalami penyidik dari Iwan. "Apakah itu terkait dengan indikasi pemberian uang secara langsung atau tidak langsung, ataupun melalui cicilan atau bagian pelunasan dari pembayaran mobil tersebut. Itu yang kami sedang dalami," kata Febri.

Dalam pemeriksaan, KPK pun memanggil dosen Fakultas Ekonomi Universitas Brawijaya Yusuf Risanto dan Kepala Cabang PT Kartika Sari Mulia, Hariyanto Iskandar sebagai saksi untuk tersangka yang sama, Eddy Rumpoko.

Namun Yusuf tidak dapat hadir karena sedang menyelesaikan studi di Cina. "Penyidik akan berkoordinasi dengan PJKAKI untuk kemungkinan melakukan pemeriksaan di luar negeri," tegas Febri.

Eddy Rumpoko ditangkap terkait suap proyek senilai Rp 5,26 miliar yang dimenangi PT Dailbana Prima. Eddy mendapatkan komisi 10 persen atau Rp 500 juta dari proyek yang dianggarkan Kota Batu pada 2017. Dari OTT, KPK menyita uang tunai Rp 200 juta yang diberikan kepada Eddy.

Sementara Rp 300 juta sebelumnya diberikan untuk keperluan pelunasan mobil Toyota Alphard milik Eddy. KPK juga menyita uang tunai Rp 100 juta yang diberikan tersangka pengusaha Filipus Djap, kepada Kepala Bagian Layanan dan Pengadaan Pemkot Batu Edi Setyawan sebagai panitia pengadaan. Ketiganya telah ditetapkan sebagai tersangka. (Jr.)**

.

Categories:Daerah,
Tags:,