ITB Pecahkan Rekor Doktor Termuda Baru Berusia 24 Tahun

ITB Pecahkan Rekor Doktor Termuda Baru Berusia 24 Tahun

Grandprix Thomryes Marth Kadja saat menjalani sidang terbuka program doktor di Gedung Annex CCR Rektorat Institut Teknologi Bandung. (foto - Ristekdikti)

Bandung - Grandprix Thomryes Marth Kadja, mahasiswa S-3 Kimia ITB secara resmi mendapat gelar doktor setelah berhasil mempertahankan disertasinya pada Sidang Terbuka Sekolah Pasca Sarjana FMIPA ITB, Jumat (20/10/2017).

Direktorat Humas dan Publikasi ITB dalam siaran persnya menyatakan, dengan mengangkat topik "zeolite sintesis, mekanisme dan peningkatan hierarki zeolit ZSM-5", Grandprix lulus dengan predikat cumlaude. Pria kelahiran 31 Maret 1993 di Kupang Nusa Tenggara Timur itu telah menyedot perhatian banyak orang.

Putra Indonesia Timur tersebut adalah putra pertama Indonesia yang mendapatkan gelar doktor pada usia sangat muda, yakni 24 tahun. Selama menjalankan Studi S-3 di ITB, Grandprix melakukan penelitian secara penuh di bawah bimbingan Dr. Rino Mukti, Dr. Veinardi Suendo, Prof. Ismunandar dan Dr. I Nyoman Marsih sebagai promotornya.

Grandprix menyatakan, garis besar penelitiannya adalah fokus pada material yang banyak dipakai di industri seperti petrokimia dan pengolahan biomassa. Dalam sidang terbuka yang dihadiri keluarga, dosen, mahasiswa dan beberapa tamu undangan dari luar ITB, Grandprix berhasil menjawab dengan baik seluruh pertanyaan dari para penguji.

Salah seorang penguji datang dari Universitas Indonesia, Dr. Yuni Krisnandi. Yuni adalah dosen senior FMIPA, Departemen Kimia, Kelompok Bidang Ilmu Kimia Anorganik yang saat ini menjabat Kepala sebagai Laboratoroum Solid Inorganic Framework (SIF) Universitas Indonesia.

Keberhasilan Grandprix meraih gelar doktor tak lepas dari dukungan pemerintah Indonesia, melalui Program Pendidikan Magister Menuju Doktor untuk Sarjana Unggul (PMDSU) yang diselenggarakan Kemenristekdikti.

Upaya meningkatkan jumlah dosen berkualifikasi doktor melalui program percepatan dengan cara memberikan beasiswa kepada para mahasiswa Sarjana Unggul, yang diinisasi Kemenristekdikti sejak 2012 patut diapresiasi.

Sebelumnya, Grandprix adalah Sarjana Unggul lulusan S-1 Kimia Universitas Indonesia, dan mengikuti Program PMDSU Kemenristekdikti pada program studi sama di ITB. Lulus magister pada 2015, Grandprix telah sembilan kali mengeluarkan publikasi seminar berskala Internasional.

Grandprix masuk SD pada umur 5 tahun dan lanjut ke kelas akselerasi di SMA, sehingga usianya pada waktu masuk kuliah S-1 adalah 16 tahun. Lulus S1 pada usia 19 tahun, kemudian melanjutkan S-2 dengan beasiswa Pendidikan Magister menuju Doktor untuk Sarjana Unggul (PMDSU) Kemenristekdikti.

Sebelumnya, gelar doktor termuda dari ITB diraih oleh Dr. Megawati Zunita yang saat itu berusia 26 tahun. Megawati yang lahir pada 17 Juni 1987, mengambil Program Studi Kimia FMIPA ITB dan telah diwisuda pada 12 Juli 2013. (Jr.)**

.

Categories:Pendidikan,
Tags:,