Bisnis Ritel Berguguran Ribuan Karyawan Jadi Korban PHK

Bisnis Ritel Berguguran Ribuan Karyawan Jadi Korban PHK

Pengunjung serbu diskon besar-besaran di gerai ritel yang segera tutup. (foto- ilustrasi)

Jakarta - Sedikitnya 1.200 karyawan telah menjadi korban pemutusan hubungan kerja menyusul bergugurannya sejumlah industri ritel modern nasional. Industri ritel yang telah tutup antara lain 7-Eleven, Ramayana, Matahari serta Lotus yang sudah menutup gerainya.

Sementara Debenhams dikabarkan akan menutup gerainya pada akhir 2017. Penyumbang PHK terbesar berasal dari tutupnya gerai 7-Eleven, karena seluruh gerainya tutup alias tidak beroperasi. Pihaknya tidak bisa berbuat banyak terhadap PHK karyawan ritel yang tutup.

Pemerintah harus turun tangan dalam memikirkan nasib karyawan yang terkena PHK tersebut. "Kita belum dapat data, tapi kalau kayak Sevel itukan kita hitung ada 167 toko, kali 5 orang sudah 800-an ditambah dengan format lain, mungkin sudah sekitar 1.200 orang," kata Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Roy Mandey.

"Kita belum tahu, kita serahkan kepada pemerintah, untuk bantu memikirkan, kan kita enggak bisa memikirkan lagi enggak mampu membayar," tambahnya. Aprindo tidak memiliki kebijakan khusus mengenai PHK, karena semua aturan PHK sudah jelas mengikuti Undang-Undang Ketenagakerjaan. Namun, Roy menyatakan kondisi tersebut seharusnya sudah menjadi "alarm" untuk pemerintah.

"Kami alert ke pemerintah, bisnis ritel ini menyerap 4 juta tenaga kerja, bahkan kalau total mulai dari hulu ke hilir bisa mencapai 14 juta tenaga kerja. Ini menempati porsi kedua dari jumlah tenaga kerja yang terkover setelah sektor agribisnis," tegasnya.

Ia meminta adanya insentif untuk pelaku bisnis ritel. Insentif yang dimaksud dengan memberi insentif biaya listrik yang bisa mengurangi beban pengeluaran ritel, dan mencegah lebih banyak lagi toko ritel yang tutup di tengah persaingan belanja online.

Menurutnya, pemakaian listrik menyumbang 35 - 40 persen terhadap pengeluaran ritel, sehingga adanya insentif biaya listrik akan memberikan keringanan pada peritel. "Sangat membantu karena insentif memberikan keringanan pada kewajiban pembayaran, yang saat ini pendapatannya tidak sepada dengan biaya. Cost makin bertambah," kata Roy.

Sementara itu, Kepala BKPM Thomas Lembong menyatakan, sebenarnya industri ritel di seluruh dunia secara merata saat ini memang tengah dihadapkan pada suatu kondisi yang membuat mereka agak kelimpungan.

"Saya pribadi percaya, dunia ritel di seluruh dunia sedang proses turning upside down. Di Amerika Serikat (AS) dan Eropa misalnya, masih dalam transformasi yang sangat traumatis," katanya.

Bahkan, ia menilai kalau ditutupnya pusat perbelanjaan di AS juga terjadi cukup masif. Artinya, kondisi serupa tak hanya terjadi di Indonesia, melainkan juga di belahan dunia lainnya. 

Mengenai kondisi itu khususnya yang terjadi di Indonesia, ia tak menampik ada kaitannya dengan perusahaan digital. "Yang pertama, yakni pergeseran belanja secara offline ke online. Meski sektornya masih kecil dampaknya bisa berlipat. (Jr.)**

 

.

Categories:Ekonomi,
Tags:,