Pejabat PBB Klaim Angkat Isu Kekerasan Seks Etnis Rohingya

Pejabat PBB Klaim Angkat Isu Kekerasan Seks Etnis Rohingya

Para wanita muda etnis Rohingya jadi sasaran kekerasan seksual. (foto - aljazeera)

Cox Bazar - Seorang pejabat senior PBB mengklaim, pihaknya akan mengangkat isu penganiayaan terhadap etnis Rohingya di Myanmar, terutama dalam hal kekerasan seksual dan penyiksaan kepada Pengadilan Pidana Internasional (ICC).
 
Pramila Patten, Perwakilan Khusus Sekretaris Jenderal untuk Kekerasan Seksual dalam Konflik mengatakan, sekitar 10 juta dolar AS atau Rp 135 miliar dibutuhkan untuk memberikan layanan spesialis bagi korban kekerasan berbasis gender.
 
"Ketika saya kembali ke New York, saya akan memberikan pengarahan dan mengangkat isu ini kepada jaksa penuntut dan presiden ICC. Apakah mereka (junta militer Myanmar) bertanggung jawab atas kekejaman tersebut," kata Patten setelah mengunjungi beberapa kamp.
 
Seperti dilansir Reuters, Patten melakukan kunjungan selama tiga hari di wilayah Cox's Bazar, dekat perbatasan dengan Myanmar dan tempat di mana etnis Rohingya mengungsi.
 
Ia bertemu dengan wanita dan anak perempuan yang berada di antara ratusan ribu etnis Rohingya yang mencari perlindungan di Bangladesh, setelah junta militer Myanmar melakukan pembakaran desa yang mayoritas ditinggali oleh Muslim Rohingya.
 
"Kekerasan seksual diperintahkan, diatur dan dilakukan oleh Angkatan Bersenjata Myanmar, atau dikenal sebagai Tatmadaw. Pemerkosaan termasuk tindakan dan senjata genosida," katanya.
 
Ia akan menceritakan situasi Cox’s Bazar kepada Sekjen PBB yang juga akan dipresentasikan ke Dewan Keamanan PBB pada Maret 2018, serta mencakup bagian khusus mengenai Myanmar.
 
Menurut Patten, tindakan brutal kekerasan seksual telah terjadi secara kolektif yang mencakup pembunuhan orang dewasa dan anak-anak, penyiksaan, mutilasi serta pembakaran dan penjarahan desa-desa.
 
"Ancaman dan penggunaan kekerasan seksual yang meluas adalah 'faktor pendorong' untuk pemindahan paksa dalam skala besar, dan alat teror yang ditujukan untuk pemusnahan dan pemindahan Rohingya," katanya. (Jr.)**
.

Categories:Internasional,
Tags:,