Kaum Wanita Korut Rentan Jadi Korban KDRT & Perkosaan

Kaum Wanita Korut Rentan Jadi Korban KDRT & Perkosaan

Salah seorang perempuan Korut yang melarikan diri dari negaranya. (foto - The Telegraph)

Jenewa - Kaum wanita di Korea Utara  (Korut)  kehilangan hak untuk mendapatkan pekerjaan dan pendidikan yang layak. Bahkan, kaum hawa di negara serba tertutup itu seringkali mengalami kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), serta pelecehan seksual terutama di tempat kerja.

Demikian dilaporkan Komite PBB untuk Penghapusan Diskriminasi terhadap Perempuan. Berdasarkan tinjauan ulang atas catatan pelanggaran hak asasi manusia (HAM) di Korut, komite menyatakan prihatin atas pemerkosaan atau kekerasan yang dialami perempuan di tahanan.

Seperti dilaporkan Reuters, Selasa (21/11/2017) perlakuan akan semakin buruk jika perempuan itu direpatriasi setelah mencoba melarikan diri ke luar negeri. "Wanita Korut kurang beruntung dalam pendidikan tinggi, badan peradilan, keamanan dan kepolisian serta posisi kepemimpinan dan manajerial di semua area non-tradisional," sebut panel ahli komite tersebut.

"Kekerasan dalam rumah tangga lazim terjadi dan kesadaran akan isu tersebut sangat terbatas serta kurangnya pendampingan hukum, dukungan psiko-sosial dan tempat penampungan bagi para korban," tambah pernyataan yang dikeluarkan di Jenewa, Swiss.

Perwakilan Korut pada 8 November lalu mengaku sedang bekerja keras, untuk meningkatkan kesadaran akan hak-hak perempuan serta kesetaraan gender. Namun, berbagai sanksi yang dijatuhkan terhadap Korut menghambat upaya itu dan justru malah menyebabkan kaum hawa dan anak-anak makin rentan.

Menurut laporan itu, para perempuan Korut mengalami malnutrisi tingkat tinggi. Keadaan makin mengkhawatirkan karena 28 persen dari perempuan itu sedang hamil atau menyusui. Perlindungan dari kasus pemerkosaan juga berada pada level yang memprihatinkan.

Para pelaku pemerkosaan tidak jarang mendapat hukuman yang kurang setimpal atas perbuatan mereka. Bahkan, hukuman menjadi lebih ringan akibat perubahan undang-undang pada 2012, untuk beberapa macam tindakan pemerkosaan. Para pelaku kini hanya dihukum 3-4 tahun penjara.

"Para perempuan yang dijual ke luar negeri dan kembali ke Korut biasanya akan dikirim ke kamp kerja paksa atau penjara, dengan tuduhan menyeberangi perbatasan secara ilegal. Mereka juga terancam mendapat kekerasan, termasuk pelanggaran HAM dan kekerasan seksual, oleh penjaga keamanan, bahkan aborsi secara paksa,” tutup laporan tersebut.

Para perempuan Korut yang menetap di Cina terkadang sengaja tidak mendaftarkan anaknya dengan status kewarganegaraan Korea Utara. Hal itu dilakukan agar anak-anak tersebut tidak mengalami repatriasi paksa ke negara asal orangtuanya. (Jr.)**

.

Categories:Internasional,
Tags:,