Praktik Lelang Perbudakan Ternyata Masih Berlaku di Libya

Praktik Lelang Perbudakan Ternyata Masih Berlaku di Libya

Demonstrasi menyoal jual beli budak warga Libya di Paris Perancis. (foto - Getty Images)

New York - Praktik jual beli (lelang) perbudakan masih berlangsung di negara Afrika Utara, Libya. Dalam sebuah pernyataan Perikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyebutkan, itu sebagai kejahatan kemanusiaan.
 
Seperti dilansir AFP, Selasa (21/11/2017) perbudakan itu diketahui lewat video viral yang memperlihatkan para migran dijual sebagai budak.  Ada lelang manusia yang perlu diinvestigasi karena menunjukkan kejahatan kemanusiaan.
 
Sementara CNN menayangkan video itu pada pekan lalu. Tampak para pria berkulit hitam diserahkan ke orang Afrika Utara sebagai tenaga pertanian. Harga pria tersebut 400 dolar AS.
 
Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres menyatakan, tak ada tempat untuk perbudakan di dunia kita dan tindakan itu merupakan yang paling mengerikan dalam hal pelanggaran hak asasi manusia. "Ini bisa jadi merupakan kejahatan terhadap kemanusiaan," sebut Guterres.
 
"Saya ngeri setelah mengetahui adanya laporan pemberitaan dan video yang menunjukkan migran Afrika di Libya diiperjualbelikan sebagai budak. Saya muak dengan tindakan yang mengerikan tersebut".
 
Ia menyerukan kepada semua pihak yang berkepentingan untuk turut menginvestigasi perbudakan itu sesegera mungkin. Ia pun meminta badan PBB untuk aktif mengejar fakta terkait hal tersebut.
 
Sementara itu, Wakil Perdana Menteri Libya Ahmed Metig mengatakan, pemerintahannya akan mengusut kasus itu. Ia menyampaikannya lewat akun Facebook pers pemerintahan nasionalnya. Pemerintahan Libya saat ini, adalah pemerintahan yang didukung PBB.
 
Guterres ingin otoritas Libya hingga Pengadilan Kejahatan Internasional mencari tahu mengenai lelang budak di Libya. Pengadilan Kejahatan Internasional memang mendapat mandat menginvestigasi kejahatan perang di Libya, yang kembali dinyatakan oleh juru bicara PBB Farhan Haq.
 
Kepala PBB menggerakkan komisi tinggi PBB untuk hak asasi manusia. Utusan di Ghassan Salame Libya harus langsung bertindak.  Kabar perbudakan itu telah menyulut kemarahan dari para pemimpin Afrika. Presiden Guinea Alpha Conde yang juga kepala Persatuan Afrika, mendorong adanya pemeriksaan dan penuntutan atas "perdagangan keji dari zaman lampau".
 
Bahkan, Burkina Faso menarik duta besarnya dari Tripoli gara-gara adanya perbudakan yang sangat melecehkan itu. Presiden Burkina Faso, Roch Marc Christian Kabore meminta informasi dari Libya tentang nasib dari 30 orang migran Burkina yang ditahan di kamp.
 
Sedangkan pemerintah Senegal juga menyatakan "kemarahan terhadap perdagangan orang Afrika Sub-Sahara di tanah Libya". Presiden Niger Mahamadou Issoufou mengatakan, isu perbudakan telah membuatnya "sangat marah" dan mendesak Libya dan organisasi internasional melakukan "apapun yang bisa menghentikan praktik itu". (Jr.)**
.

Categories:Internasional,
Tags:,