Rekam Anak Majikan Mandi TKI Ditangkap di Hongkong

Rekam Anak Majikan Mandi TKI Ditangkap di Hongkong

Rekam anak majikan sedang mandi seorang TKI ditangkap di Hongkong. (foto - ilustrasi)

Hongkong - Seorang pembantu rumah tangga (PRT) asal Indonesia ditangkap di Hongkong, atas dugaan mempublikasikan pornografi anak. TKI tersebut menyiarkan secara langsung video anak-anak majikannya saat mandi, lewat akun Facebook miliknya.
 
Dilansir media The Star, Selasa (5/12/2017) nama PRT itu tidak diungkapkan ke publik dan hanya disebut sebagai seorang wanita berusia 28 tahun dari Indonesia. Ia dilaporkan gemar berfoto selfie dan memposting foto dan video ke media sosial.
 
PRT itu disebut menyiarkan secara langsung lewat Facebook, tiga anak majikannya yang sedang mandi. Tayangan langsung itu diambil dari kamar mandi apartemen majikannya di Electric Road, Hongkong pada Jumat 1 Desember malam pekan lalu.
 
Ketiga anak majikan PRT itu berusia antara 7 hingga 8 tahun. Video berdurasi 17 menit itu lalu diposting oleh si PRT ke akun Facebook-nya, namun telah dihapus pada Senin 4 desember. Salah satu anak dalam video itu sempat menanyakan, apakah si PRT merekam video mereka saat sedang mandi dan memintanya untuk berhenti merekam, namun si PRT menolak.
 
Juru bicara kepolisian setempat mengatakan, seorang wanita melapor pada Senin 4 Desember sore, dengan menyebutkan seorang PRT mempublikasi video putra dan putrinya saat mandi. PRT itu lalu ditangkap oleh polisi setempat atas dugaan mempublikasi pornografi anak.
 
Sementara itu, Ketua Asosiasi Badan Ketenagakerjaan Hongkong, Cheung Kit-man menduga PRT itu kemungkinan tidak sadar jika aksinya telah melanggar hukum. Ia menyebutkan, setiap PRT biasanya mendapat pelatihan selama berbulan-bulan oleh agen tenaga kerja, sebelum ia mulai bekerja.
 
Setiap PRT seharusnya diberitahu mengenai hal-hal apa saja yang tidak boleh dilakukan saat ia bekerja, termasuk mengambil foto juga video anak-anak majikannya. Cheung meyakini, kasus tersebut bukanlah kasus yang meluas dan marak.
 
Sedangkan juru bicara Badan Koordinasi Migran Asia, Eni Lestari menyebutkan kasus itu mungkin dipicu oleh perbedaan budaya dan pemerintah Hongkong memiliki kewajiban untuk memberikan panduan soal perilaku yang tidak diterima secara budaya di negara itu.
 
Di bawah Undang-undang Pencegahan Pornografi Anak yang berlaku di Hongkong, siapa saja yang mempublikasikan pornografi anak bisa terancam hukuman maksimal 8 tahun penjara dan hukuman denda maksimal 2 juta Hongkong dolar atau setara Rp 3,4 miliar. (Jr.)**
.

Categories:Internasional,
Tags:,